Kamis, 28 September 2017

“NAU NAU SATU KAPALA”


“NAU NAU SATU KAPALA”

Siang itu, seperti biasanya  MAKU  selalu ada di rumah kopi, baik siang ataupun malam, pas malam hari maku sudah sama  seperti paniki, biji mata tabuka lebar for ada dalam kelompok tukel ( alias bagadang)  Mereka selalu ada dalam kelompok diskusi dan kelompok batukel, mulai dari batukel ( bicara)  politik, isu isu hangat di bicarakan, pokonya  dari mana mulainya yang penting nyambung, tidak lupa ditemani kopi satu gelas plus pisang goreng panas panas, kopi satu gelas kental panas sampai menjadi dingin itulah tradisi penikmat kopi.  Pantas saja , maitua  telpon terus, mulai dari panggil bapa belum pulang lai ya? Maku dengan gesit bilang masih tempo ma, satu jam kemudian, telp bunyi lagi, mama  sudah tidak panggil Bapa lagi, tapi panggil dengan nama woe maku, belum pulang lagi kah? sabantar (sebentar) dulu mince, oke sedikit lagi pulang jua, sudah lat ni, satu jam kemudian telp bunyi, e, bukan lagi bapa, bukan lagi maku, tapi woe KASKADU se belum pulang lai ( terjemahannya seperti ini: woe kaskadu/kurap.e kamu belum pulang lagi yah). Itulah penikmat kopi, lupa diri, lupa maitu, lupa anak anak dan yang paling hot adalah juga lupa polo maitua.hehehe.

Kebetulan  siang itu mereka batukel tentang Pilkada Maluku,  dalam kelompok batukel ada maku, toton dan takur, kawan.e jangan bahas masalah nama yah, di ambon ini namanya aneh aneh? Oke bro,  kita tidak bahas masalah nama nama,  kita kembali topic tukel tadi, masalah Pilkada Maluku, maku bilang Pilkada Maluku hanya satu putaran, karena menurut maku, orang Maluku sudah bisa lihat  hasilnya, coba lihat jalan jalan mulus samua, kaya deng  kulit orang manado ( satu gambaran untuk membuat analogi jalan mulus)  gedung gedung baru muncul sana sini, katong lihat ambon ni su sama  deng Jakarta sah ( kita melihat ambon sudah sama dengan Jakarta saja) transportasi lancar, internet jelas, satu lagi katong bisa santai dan minum kopi ni.
Toton adalah PNS  tapi ia juga seperti PENGACARA  penganguran banyak acara kerjanya hanya tukel, persis sama dengan maku, padahal PNS tua, dengan pengalaman kerja hampir seantero pulau Yamdena , terlalu tua, saking tuannya, toton selalu ada di warung kopi,hehehe. Menurut data BPS, nah toton ada dalam kategori ini yakni “Setengah pengangguran” (underemployment) Adalah orang yang bekerja kurang dari jam kerja normal (35-40 jam per minggu), bekerja tetapi produktivitasnya rendah dan bekerja tidak sesuai antara keahlian dengan pekerjaannya (BPS, 2004:3). Data BPS tepat tu, banyak PNS yang nyantol di rumah KOPI, termasuk TOTON.

Toton tidak mau kalah  dengan maku, toton bilang batul maku, tapi coba lihat beta ni, sudah kerja bertahun tahun tapi gaji  tidak cukup, Maku menyela pembicaan toton, gaji kacil/kecil bagaimana? Ale kerja saja tarberes beres, datang absen selanjutnya masuk rumah kopi, pantasan satpol PP sering tangkap kamoran (kalian). Totonpun membalas dengan tertawa baterek hahahai, sambil mengatakan seng ada yang susah di republic ini ( tidak ada yang susah di Indonesia ni).

Takur  adalah laki laki  sadap, orang ambon sering memanggil  seseorang dengan sebutan tersebut karena  salalu sadap, alias minum sopi,  minum sopi sampai tarabe gargontong ( Minum sopi sampai  tergorokan terbuka lebar)  pokoknya sorong putus, malintang patah.  Takur mulai dengan pendapatnya, ia bilang, Maluku belum cukup maju, ia protes sama maku, tadi ale bilang ( tadi kamu bilang) di maluku jalan sudah mulus, sori  onco, jalan itu mulus pada saat tour de maluccas saja,  coba kalau seng tour de mollucas apakah pemerintah akan tambal jalan yang bolong bolong, mikir dong onco,
Sementara itu waktu sudah menunjukan pukul 10, malam para penikmat kopi sudah mulai pulang, tapi kelompok tukel maku,totondan takur masih sadap  batukel. Diskusi semkain hangat, semakin hot, semakin asyik, tiba – tiba…..

TIBA TIBA DARI PINTU DEPAN RUMAH KOPI, MUNCUL SESOSOK MAKLUK NYATA, DENGAN DASTER  BUNGA BUNGA DAN RAMBUT YANG TERURAI TIDAK KARUAN, DARI JAUH KURANG BEGITU KELIHATAN KARENA SILAUAN SINAR LAMPU RUMAH KOPI, SEMAKIN DEKAT, DAN SEMAKIN DEKAT TIBA TIBA TERDENGAR SUARA , “ WOE KASKADU, ABUNAFAS, KAMONG TUKEL APA SAMPAI JAM BAGINI ( KALIAN BICARA APA SAMPAI JAM BEGINI) BIKING DIRI SAMA DENG PROFESOR TOMBONG “ PADAHAL NAU NAU SATU KAPALA ( BUTA HURUF SATU KEPALA) PULANG SANA KACIL ADA MANANGIS MINTA SUSU. HAHAHAHAI



0 komentar:

Posting Komentar