Minggu, 14 Mei 2017

KULTUR IDENTITAS


KULTUR IDENTITAS,

Suatu waktu saya berpikir tentang leluhur saya, asal usul mereka, darimana mereka datang, sebelum mendiami pulau Seram, mereka datang darimana? Siapa garis leluhur awal dari mereka. Saya hanya mendapatkan konfirmasi singkat tentang tuturan sejarah tersebut dari beberapa orang tua, padahal mereka juga dapat informasi yang sama dari pendahulu mereka juga,

Foto Petrus Peter Saiya. Leluhur saya adalah Tuasaya, informasi tentang peradabannya sangat variabel, ah, ini adalah pikirkan metodologi dan harus butuh investigasi dan tekad untuk mendapatkan data tentang asal usul mereka,

Saya tidak bahas ini, saya mau bahas kultur sebelum agama hadir di maluku, spirit apa yang mereka bawa, apakah ada toleransi yang kuat dalam peradaban mereka? Maaf, ini hanya sebuah pendapat, tidak ada literatur atau referensi, hanya sebuah hayalan masa lalu, berpikir imajinasi, hmm, tapi bukan penghayal,

Dimulai di sebuah Hutan yang masih natural, kegelapan seolah olah menjadi dominan dari siang/baca terang, dominasi penguasaan hutan tidak bersifat Hegomoni, tidak ada reform agraria, siapa yang kuat untuk kerja, mendapatkan hasil yang melimpah, belum ada penyalur hasil bumi, tidak ada monopoli hasil, kadang mereka makan bersama, berbagi makanan, hasil hutan, sayuran, dll hanya untuk hidup sehari hari,

Mereka bertahan demi kelanjutan generasi berikutnya, tidak ada internet, WA, Fb, BBM, LINE, radio, hanya sebuah penerangan api? tidak tahu apa bahan dasar yang di pakai mereka, pada masa itu, munking ini adalah sebuah terobosan baru, mungkin di mulai dengan bahan dasar alami yang hanya dapat di ambil dari
Hutan atau juga dengan melakukan gesekan dua benda atau benturan kedua batu, di tambah ilalang kering jadilah terang, amazing. Siklus sosial alamiah, kalaupun ada gejolak sosial, cara menyelesaikan bersifat kekeluargaan, hati nurani mereka murni, seolah olah tidak ada dusta di antara mereka, keakraban, toleransi, gotong royong, memberi perhatian, menguatkan hidup orang saudara dalam ikatan pela dan gandong. Mereka adalah pencetus identitas kultur.

Hutan ini terlalu luas, maka mereka dispora ke gunung gunung, pesisir dan pulau lain dengan membawa IDENTITAS KULTUR, ini adalah modal untuk survival, mereka memandang kekuatan roh di luar raga manusia sebagai UPU, dalam terminologi definisi kata di pandang sebagai Tuhan, apakah kita dapat menyebutnya Kafir, mereka hanya mempunyai identitas kultur, hanya Tuhan yang faham untuk hal ini,

700 tahun kemudian, Nilai nilai dari identitas kultur tersebut seolah olah di gerus olah paradigma sesat yang mengkultuskan kebenaran individual, muncul sebuah pertanyaan kronis, benarkah agama sebagai sumber perpecahan? Ternyata semua agama secara universal mempunyai pesan moral yang kuat untuk menghargai perbedaan? Lepas dari dogmatis inklusif, dan misi kita masing masing, pada titik simpul kita sepakat bahwa perbedaan adalah Anugrah.
Identitas Kultur adalah,
1.Semangat menghargai dalam hubungan sosial, hal ini, paling tidak mengurangi gesekan,
2.Membawa dampak persaudaraan dalam konsep pela gandong, mereka menjadi kuat karena perbedaan,
3.Menguatkan harapan kepada generasi selanjutnya agar mereka tetap belajar dari sejarah.
Dengan mengutip jawaban Heroik, kalau mereka tanya kamu siapa, maka se harus jawab BETA MALUKU.
Salam Damai indonesia,
By.AyaH BaRuCH
#Sastraambon

0 komentar:

Posting Komentar