Kamis, 11 Mei 2017

ABSURDITAS “AHOK Vs PATRIALIS AKBAR”


ABSURDITAS  “AHOK  Vs  PATRIALIS AKBAR”

Absurditas adalah ( Kemustahilan, tidak masuk akal)

Absurditas ahok dalam konteks PILKADA, 
melirik program kerja dari pak ahok, berdasarkan informasti dari situs resmi ahok.org menyembutkan visi Ahok bersama Djarot ingin menjadikan Jakarta sebagai etalase kota Indonesia yang modern, tertata rapi, serta manusiawi. Keduanya fokus pada pembangunan manusia seutuhnya  dengan kepemimpinan yang bersih, transparan, dan profesional.

Selain visi, kedua pasangan ini memiliki lima misi. Pertama, mereka ingin mewujudkan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), terbuka, dan melayani warga. Misi kedua terkait jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar warga.

Ahok dalam periode pertama berhasil membuktikannya dalam kerja nyata, menciptakan pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, bebas pungli dan penataan system administrasi dan desain birokrasi yang melayani.  penatalayanan yang beorientasi pada efisiensi pelayanan public yang bersih dan bertanggung jawab.

Desain visi dan misinya di petakan sebagai program dan kerja nyata dari 11 program kerja ahok dan telah terbukti tidak ada perbedaan dalam struktur social, membangun fasilitas umum dan membuat pola ruang public yang dapat di akses oleh setiap orang Jakarta.  Ahok  bekerja tanpa memandang suku agama, ras dan antargolongan (sara) hal ini terlihat dari program kerjanya  dan bisa di buktikan lewat  pernyataan dalam pemebelaan pribadinya di sidang pertamanya dalam kasus penistaaan agama, berikut ini sepenggal kutipan ahok, “ Sebelum menjadi pejabat, secara pribadi, saya sudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid di Belitung Timur, dan kebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat sebagai Anggota DPRD Tingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati Belitung Timur. Saya sudah menerapkan banyak program membangun Masjid, Mushollah dan Surau, dan bahkan merencanakan membangun Pesantren, dengan beberapa Kyai dari Jawa Timur. Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat publik minimal 2,5% untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai pembayaran Zakat, termasuk menyerahkan hewan Qurban atau bantuan daging di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

 Pertanyaannya bagaimanakah   absurditas, Ahok dalam kontek Pilkada? Sebagai pengulangan lagi pada ulasan diatas ahok telah bekerja dengan sepenuh hati, sekuat tenaga, membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga kurang mampu, memberikan jaminan hidup yang layak bagi orang yang kurang mampu.  Mainstream dalam kontek kepemimpinannya  tetap bersih sesuai dengan amanah dari Tuhan dan tetap dalam regulasi dan aturan main yang bebas KKN,  TETAPI hal ini oleh penantang sebagagai ABSURDITAS dan anti Mainstream. Seolah olah ahok tidak bekerja dengan baik dan anti mainstream. Apakah hal ini yang disebut dengan Absurditas dan anti mainstream.

Berikut ini saya kutip sebuah tulisan dari sebuah sumber: Mengapa Teman Ahok begitu inginnya agar Ahok kembali menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk periode berikutnya? Menurut opini saya, Ahok merupakan tokoh yang hebat dan jarang ditemui orang seperti dirinya di pemerintahan kita saat ini. Beliau sangat berani melawan tindak korupsi dan segala macam hal yang tidak benar dalam permasalahan pemerintahan, walaupun kita tahu bahwa dia seorang yang minoritas di pemerintahan DKI Jakarta. Ia tidak takut akan segala konsekuensi yang akan diterimanya dengan membuka dan menentang "kebiasaan" yang biasa terjadi dalam tubuh pemerintahan kita.

Contoh ini membuktikan ahok telah bekerja keras dan mempunyai hasil tetapi beberapa orang tetap mengatakan bahwa ia tidak membela rakyat, ahok dalam pemimpin Jakarta sedikit berbeda dengan gaya mainstream para pemimpim umumunya, sehingga saya menyebutnya sebagai anti-mainstrean apalagi menyebutnya menistakan agama, berikut kutipan ahok” dalam sidang kasus penistaan agama. “Dengan program itu, Ahok mengaku tidak mungkin memiliki niat menistakan agama Islam dan menghina ulama. "Saya mohon agar majelis hakim dapat pertimbangkan nota keberatan saya ini, dan selanjutnya menyatakan dakwaan JPU batal demi hukum, dan saya dapat kembali melayani warga Jakarta dan bangun kota Jakarta," ujar dia.

Tidak mungkin seseorang yang dengan darah dan tenaga serta kerja kersanya mau menistakan agama, tetapi para penentang menggangapnya sebagai absurditas ( tidak mungkin) dan anti – mainstream , ahok di anggap tidak bekerja dan sedikit berbeda dari kebiasaan para leader.

Absurditas PATRIALIS AKBAR” dan HAKIM KONSTITUSI
Kutipan penolakan untuk menjadi gubernur di lontarkan oleh Patrialis Akbar , berikut  Kutipannya” Seperti diketahui Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar prihatin masyarakat lebih memilih pemimpin non-Muslim. “Banyaknya provokasi sehingga yang dipilih adalah pemimpin non-Muslim," jelas dia dalam memberikan sambutan di Pertemuan Dai se-Asia Tenggara, Selasa (26/7).

Rekam jejak dan karirnya sangat bagus, seorang yang taat beribadah berikut ini saya tampilkan informasi singkat mengenai Bapak Patrialis Akbar,

Bagi Patrialis, menjadi hakim konstitusi berarti menegakkan keadilan bagi harkat dan martabat kemanusiaan. Ia mengakui tidak memiliki visi pribadi karena ditakutkan akan mengacaukan MK. “Karena MK memutuskan putusan yang diambil berdasarkan hasil keputusan kolektif, akan bahaya jika setiap hakim memiliki visi pribadi,” tegasnya.

Berikut ini informasi mengenai pendidikannya:
Sekolah Dasar Muhammadiyah, Padang (1971)
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, SMPN II, Padang (1974)
 Sekolah 4 Tahun Pendidikan Guru Agama Negeri, Padang (1975)
Sekolah 2 Tahun Pendidikan Guru Agama Negeri, Padang (1977)
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, STM Negeri II, Padang ( 1977)
 S1 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah, Jakarta (1983)
S2 Program Magister Hukum Universitas Gajah Mada (2010)
S3 Doktor (Hukum) Universitas Pajajaran, Bandung (2012)

Patrialis akbar mempunyai pandangan lebih baik memilih muslim dari pada non muslim, patrialis tidak melihat kepemimpinan ahok, program kerja ahok dan hasil yang telah di capai oleh ahok, sehingga ini yang disebut absurditas, dengan kata lain walaupun ahok sudah bekerja dengan baik, tetap jangan memilih pemimpin non muslim, ahok dianggap sebagai “absurditas ( kemustahilan, mustahil, tidak mungkin)    Sesungguhnya kata ini lebih tepatnya  disandangkan kepada patrialis akbar, absurditasnya lebih kelihatan  tidak mungkin patrialis akbar dalam posissinya sebagai Hakim Konstitusi, taat beribadah mempunyai rekam  jejak yang baik ditetapkan sebagai tersangka penerima suap.

Sumber lain menyebutkan,” KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar ditahan usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/1/2017). KPK menetapkan empat orang tersangka dalam operasi tangkap tangan yakni hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar, pengusaha swasta yang diduga penyuap Basuki Hariman, dan sekretarisnya NG Fenny serta Kamaludin sebagai perantara terkait dugaan suap uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Ah akhirnya kita bisa menilai siapa yang tulus dan siapa yang  tidak tulus,  anda sendiri yang menjawabnya.

0 komentar:

Posting Komentar