Senin, 21 Maret 2016

NYONG AMBON ALA JAKARTA


NYONG AMBON ALA JAKARTA
( P. Saiya )

Pada tahun 1994 silam, ketika saya masih berusia 19 tahun masih sangat kuat, cekatan dan masih sanggup untuk lompat tembok, sekarang pun masih sanggup asalkan bukan tembok berlin. Pada saat itu di ambon terkenal dengan istilah pelarian ke jakarta artinya menjadi penumpang kapal tanpa tiket ( Penumpang Ilegal gitu lho). Caranya cukup sulit secara diam-diam kita menyusup masuk ke dalam kapal kemudian bersembunyi di bagian kapal yang sulit di lacak sehingga pada saat pemeriksaan tiket tidak ditemukan pelarian tersebut.

Masa itu kapal Pelni atau dikenal dengan Kapal Putih sangat terkenal sehingga kapal ini dipakai untuk anak – anak Ambon melakukan pelarian ke Jakarta, kalau beruntung bisa tembus ke Jakarta. Setiap pos atau pelabuhan di adakan pemeriksaan tiket kalau lolos bisa tujuan pos terakhir adalah Jakarta.
Nah, serunya disini, dimana? Dijarkarta lah, tadinya pakai beta sekarang sudah pakai lhu dan gue. Saya jadi ingat guyonan teman saya, ia cerita tentang seorang  pemuda  yang dari ambon datang ke Jakarta, begini guyonannya” Jhon, jhon lhu kemana aja? Gue tunggu – tunggu ose seng datang” hahaha, ini yang disebut kolaborasi budaya dan bahasa.

Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan” bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. 11 Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk; dalam bahasa Inggris sepadan dengan fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Tetapi kata iwak dalam bahasa jawa bukan hanya berarti ikan atau fish. Melainkan juga berarti daging yang digunakan juga sebagai lauk (teman pemakan nasi). Malah semua lauk seperti tahun dan tempe sering juga disebut iwak.

Sama halnya dengan mengunakan kata seng dalam bahasa Indonesia di sebut atap tetapi kata seng dalam bahasa Maluku artinya tidak jadi menurut saya ini di sebut dengan kolaborasi budaya dan bahasa  sehingga membutuhkan waktu untuk penyesuaian bahasa dan budaya.  Perlu waktu yang cukup lama untuk dapat menyesuaikan satu bahasa ke bahasa yang lain mengingat keadaan dan situasi satu daerah berbeda. Tetapi tidak sukar dan  sulit  untuk “ Nyong Ambon Ala Jakarta”  Sejak awal nyong ambon sudah  sering bahkan hampir setiap waktu ia mendengar cerita heroic tentang sukses story dari para pendahulunya yang berhasil kabur dari ambon menuju Jakarta ini yang membuat adrenalin nyong ambon semakin cetar membahana orang ambon bilang pele putus, malintang patah ( artinya siapa yang menghalangi pasti putus atau tembus dan siapa yang menghalagi pasti patah/remuk).

Dalam satu hari saja nyong ambon sudah bisa taklukkan Jakarta, kalau gue sih ngga percaya. Memang  Hidup di Jakarta harus punya nyali 1000 tidak boleh takut kepada siapa pun. kisah – kisah heroic telah menjadikan nyong ambon berubah total.  Siapa saja nyong ambon ala Jakarta yang berani taklukan Jakarta.

RIKO PATIKASI.
Rico Patikasi, pemuda asal Tanah Tinggi, Ambon, akhirnya tewas di tembak polisi di kawasan tanah tinggi, johar baru, Jakarta, jumat (22/1/2016). Rico terlibat baku tembak saat aparat polisi gabungan melakukan penggrebekan.  Rico juga dikenal merantau sudah cukup lama di Jakarta dan sering pulang berlibur ke Ambon dan tinggal di kawasan Johar Baru sejak 2004 lalu ( sumber suaramaluku.com).
Biar orang mau bilang apa lai” Pastiu” Beta sudah bisa Taklukan Jakarta. Frasa ini yang beta sebut “ Nyong ambon ala Jakarta”.

Refleksi: Perubahan seseorang bukanlah di tentukan dari kata-kata semata tetapi dari sebuah karakter.

0 komentar:

Posting Komentar