Selasa, 15 Maret 2016

Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas


Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas

Aparat kepolisian saat menggerebek Kampung Ambon, Sabtu (23/1/2016). Foto oleh elaenews.com

satumaluku.com- Cerita tentang Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, menarik ditelisik kembali menyusul penggerebekan ratusan aparat kepolisian bersenjata lengkap, Sabtu (23/1/2016) lalu.
Lepas dari hasil dan motif penggerebekan, tindakan ratusan polisi terbilang surprise karena sudah lebih dua tahun Kampung Ambon tak lagi digerebek personil dalam jumlah banyak.  Tetapi memang, Kampung Ambon punya kisah kelam di masa lalu dan banyak yang mafhum tentang itu. Berikut sekelumit kisah kampung di barat Kota Jakarta ini:
Dari Kampung Rawa, Jadi Kampung Narkoba
Kampung Ambon, sejatinya bernama Kompleks Permata, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Nama Kampung Ambon lebih disebabkan oleh sebutan warga Jakarta lantaran para penghuni perumahan tersebut adalah orang-orang Maluku.
Warga Maluku ini merupakan keturunan para mantan tentara Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Batalion X bentukan Belanda saat Perang Djawa (1825-1830). Lokasi markas Batalion X ini dulu berada di lokasi Hotel Borobudur.
Saat masa penjajahan Jepang, 1942 -1945, para mantan tentara KNIL beserta keluarganya dipindahkan ke sejumlah sekolah bangunan Belanda yang ditutup oleh Jepang.  
Saat itu Sekolah Dokter Djawa di STOVIA sudah pindah ke Jalan Salemba. Pada 1942 Gedung Utama STOVIA sudah berubah menjadi Algemeene Middelbare School (AMS)-kini jadi museum.
Sementara itu, dua gedung lain dipakai Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)-kini SMAN PSKD 1. Satu gedung lagi digunakan Darde School-kini SDN 03 Senen. Gedung-gedung ini berdiri sejajar di Jalan Kwini, Senin, Jakarta Pusat.
Semua kisah ini masih ingat betul di ingatan seorang Kepala Keamanan Sekolah PSKD 1, Jakarta Pusat, Raymond Raymondus Saru (69), ayahnya Prajurit KNIL asal Timor.
Menurutnya, pasukan eks Batalion X dipindah ke enam lokasi berbeda. Prajurit Maluku pindah ke gedung AMS, Darde School, dan MULO. Sementara itu, prajurit Timor pindah ke sebuah bangunan berstatus Eigendom Verponding, sejajar dengan STOVIA dan MULO. Lalu, prajurit eks KNIL Manado pindah ke Jalan Kramat VII.
Adapula prajurit yang pindah ke Berland dan Polonia Kamp. Letak Polonia Kamp sekarang berada di samping Gereja Vincentius, Jakarta Timur.
Tiga dekade kemudian, tepatnya pada Maret 1973, Gubernur Ali Sadikin memindahkan keluarga pasukan eks KNIL Maluku ke Kedaung Kaliangke (Kampung Ambon). Saat itu Pemprov DKI memindahkan 196 kepala keluarga atau sekitar 1.000 jiwa. Pemindahan itu terjadi mulai 25 Maret 1973. Lokasi perumahan yang mereka tinggal masih berbentuk rawa-rawa.
Ada sebagian warga yang memilih pulang ke Ambon atau memilih pergi dari tempat itu karena rumahnya terbuat dari kayu dan tripleks, seperti bedeng-bedeng, berjejer rapi dan belum dialiri listrik. 
Masa awal kepindahan warga Ambon di Kompleks Permata, kejahatan yang muncul adalah pemalakan. Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun 1990-an.
Perjudian sabung ayam juga sempat tenar pada periode 1990 ke atas. Dahulu polisi sering kali menggerebek judi sabung ayam. Belakangan, narkoba muncul.
Kawasan perumahan yang ditinggali sekitar 2.000 keluarga itu memang sempat dikenal sebagai “surga” peredaran narkoba. Di tempat itu, narkoba dijual secara besar-besaran meski tetap tertutup.
Saat Kapolda Metro Jaya dijabat Inspektur Jenderal Untung Suharsono Rajab, pada akhir 2011 lalu, operasi besar-besaran pernah dilakukan di Kampung Ambon. Sekitar 500 personel tim terpadu dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Mabes Polri, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Pempov DKI Jakarta menggerebek lokasi tersebut.
Dari operasi ini, kepolisian menyita 6.531 butir ekstasi, 4 ons sabu, 4 pucuk senjata api, 50 gram heroin, 15 pucuk senjata tajam, 4 kilogram ganja, 600 butir happy five, 1.000 bong, dan uang tunai Rp 218 juta.
Selain itu, 30 lapak berupa rumah dan warung juga disegel lantaran kedapatan menjual narkoba. Sebanyak 53 pelaku yang kedapatan ada narkoba juga diamankan dan langsung menjadi tersangka. Para pemakai narkoba banyak yang kedapatan sedang mengonsumsi barang terlarang di ruangan khusus yang ada di rumah-rumah tersebut.
Polisi juga menemukan mesin hitung dan timbangan untuk transaksi narkoba di rumah-rumah. Alat-alat ini bahkan tidak hanya ditemukan di rumah, tetapi juga di warung kecil di sekitar wilayah itu.
Di sejumlah rumah, ada ruangan khusus untuk mengonsumsi narkoba. Jadi, kalau mau beli dan makai, bisa langsung masuk di situ. Di sana juga ada tabel harga dan jenis barangnya apa dipampang. 


kampung ambon2- sablon
Pelatihan ketrampilan sablon yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk warga di Kampung Ambon
Surga Narkoba dan Tumbangnya Para Bos
Label surga belanja pemakai narkoba yang disematkan ke kawasan ini bahkan sempat termashyur sampai ke luar kota. Hilir mudik para pengedar dan pemakai narkoba mendatangi kawasan ini. Tidak hanya kalangan bawah atau menengah, pejabat kepolisian atau anggota legislatif yang ditangkap aparat kepolisian mendapatkan pasokan barang haram itu dari kawasan ini.
Beberapa tahun lalu, tak semua orang berani masuk kawasan ini. Hampir di semua gang lalu lalang para pemuda berbadan kekar dengan pandangan penuh curiga. Bahkan terkadang mereka yang baru pertama kali datang, akan ditanya KTP.
Wartawan Sinar Harapan Dany Putra pada September 2014 lalu menulis, tahun 1999 sampai akhir 2013, Kampung Ambon menjadi sasaran empuk kartel narkoba. Bandar besar, sedang, dan kecil leluasa meneguk keuntungan. 
Menurut Kepala Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Gembong Yudha, yang diwawancarai Dany Putra, selama perjalanannya, Kampung Ambon dipimpin tiga bandar besar. Bandar besar menaungi warga yang bersedia mengedarkan dengan membuka lapak-lapak.  “Ada beberapa bandar di sana. Tapi dari beberapa sindikat, hanya sebagian yang merajai peredaran narkoba,” katanya.
Sebut saja Michael Glenn Manuputty yang ditangkap Polda Metro Jaya di kontrakannya di kawasan Villa Bintaro Regensi, Blok G3/17, Pondok Aren, Tangerang, pada 27 Juli 2009. Ada pula Morison Manuel Yunus yang dibekuk pada 22 September 2013 di di Perumahan Harvest, Cileungsi, Kabupaten Bogor. Selanjutnya ada Donald Pattiwael alias Getet yang meninggal pada 7 Januari 2012. Ketiganya adalah bandar yang paling fenomenal di Kampung Ambon.
Selain ketiga bandar itu, ada bandar skala menengah seperti Edo Kacili, Ari Morison, Beby Marcela, Edo Tupessy, dan masih banyak lagi. Namun dari semua bandar menengah ini, kemungkinan besar berafiliasi kepada satu induk. Morison diduga kuat menjadi induk narkoba di kampung itu.
Jalan panjang penangkapan Morison dimulai saat Lapak Mangga—lapak terbesar di Kampung Ambon—miliknya digerebek pada 16 Maret 2013. “Saat itu, 70 orang diringkus dari Lapak Mangga. Tim juga mengamankan 100 gram sabu, 60 sepeda motor pasien narkoba, dan uang tunai hasil penjualan senilai Rp 75 Juta,” tutur Gembong.
Memang saat dibekuk, Morison hanya mengaku memiliki satu lapak di Jalan Berlian. Lapak Mangga milik Morison ini adalah yang terbesar dari semua lapak yang ada. Tapi, polisi tidak percaya begitu saja sebab dua tahun lebih menjadi bandar, ia memiliki kekayaan yang berlimpah.
Polisi telah menyegel enam rumah milik tersangka Morison Manuel Yunus alias Ison (45) di Jalan Safir RT 05/07 dan Jalan Nilam RT 06/07, Kampung Ambon, dan di Sentul, Jawa Barat. Belum lagi harta benda lainnya seperti, perhiasan emas 700 gram, mobil, dan motor.
Semua aset yang disita jumlahnya mencapai miliaran rupiah.  Ditangkapnya Morison ikut mengurangi peredaran narkoba di Kampung Ambon.
Berdasarkan cerita masyarakat Kampung Ambon, Morison alias Ison memulai karier narkobanya pada 1998. Kala itu ia menjadi anak buah Donald Pattiwael alias Getet. Saat itu, Ison masih bekerja sebagai sekuriti di kantor Satelindo. Jadi pengedar ganja hanya kerjaan sampingannya.
Ison masih pengedar kecil ketika itu. Tak ada tanda-tanda Ison menjadi lebih besar dari Getet. “Bahkan ia memanggil Getet sebagai bos,” kata Ketua RT 07/07 Kampung Ambon, Sheynda Lohy Nittalesy, yang diwawancarai Dany Putra pada 2014 lalu.
Sheynda merupakan teman kecil Ison. Menurutnya, Ison memulai jualan sabu tanpa modal banyak. Ia hanya bermodal mengontrak rumah.
Ison membeli sabu dengan cara tunda bayar. Jadi, sabu diambil dari bandar, setelah tiga hari berikutnya baru Ison mentransfer uang pembelian ke bandar. “Ia menyisihkan keuntungan dari penjualan di lapaknya,” ucapnya.
Sheynda melanjutkan, dalam sekejap Ison melesat. Bertahun-tahun menjadi bandar kecil, ia kemudian mulai jadi bandar besar. Tahun 2009 awal, benderanya mulai berkibar di Kampung Ambon, menyaingi Getet. Kemudian Ison punya sebutan baru, anak buahnya memanggilnya bos. Bahkan beberapa warga juga ikut memanggilnya bos.
Tahun 2011, Ison membeli empat rumah di Jalan Safir, Kampung Ambon. Empat rumah itu kemudian dijadikan satu sehingga menjadi rumah terbesar di sana. Rumah yang tadinya disewanya untuk lapak pun ia beli. Pada akhir masa jayanya tahun 2013, lapak ini dikenal dengan sebutan Lapak Mangga.
Sheynda melanjutkan, Donald Pattiwael dijuluki warga sebagai Don. Ia bisa dibilang orang pertama yang menjadi bandar di Kampung Ambon. Don sudah menjadi bandar sejak 1999. Bisnisnya mulai runtuh pada 2008.
Oleh warga, ia juga dijuluki Pablo Escobar, bandar narkoba fenomenal asal Kolombia. “Pada era ini, narkoba yang marak beredar jenis ganja. Getet pengendar ganja terbesar di Kampung Ambon,” kata perempuan yang tinggal sejak 1973 di Kompleks Permata ini.
Getet runtuh lantaran terkena kasus pada 31 Januari 2011. Saat itu, ia berurusan dengan keluarga Nitalessy. Getet dituduh jadi otak pembunuhan adik Sheynda. Namanya John Svend Pry Nitalessy. Keluarga lebih akrab memanggilnya Empy.
Alhasil, bisnis haram Getet tak ada yang meneruskan. Anak buah Getet sama sekali tak menunjukkan kesetiaannya. Mereka memilih pergi. Ada pula yang bekerja kepada Ison. Banyak pula yang membuka lapaknya masing-masing di Kampung Ambon.
Seingat Sheynda, bisnis sabu Getet tambah terpuruk lantaran keluarga Nitalessy mengamuk. Kakak tertua di keluarga itu, Tossi Nitalessy, menghancurkan lapak sabu milik Getet.
Tossi merobohkan tembok depan, menghancurkan semua kusen jendela dan pintu. Pagar-pagar dirusak. Perabotan di dalam rumah dihancurkannya.
Semua orang di Kampung Ambon tak berani berbuat apa-apa saat Tossi mengamuk. Bahkan setelah puas, Tossi memasang spanduk putih bertuliskan ‘Rumah Ini dalam Sengketa. John Svend Pry Nitalessy.’
Dalam waktu yang bersamaan, saat Getet berjaya dan Ison sedang meniti karier, ada bandar lain masuk ke Kampung Ambon sekitar tahun 2007. Ia adalah Michael Gleen Manuputty. Ia sebenarnya orang luar Kampung Ambon. Michael berasal dari keluarga berada, tinggal di Kompleks Pertamina, Cengkareng, Jakarta Barat, tidak jauh dari Kampung Ambon.
Namun kemudian, Michael membeli rumah di Kampung Ambon. Ia lalu mulai mengedarkan sabu. Michael kemudian menjadi pesaing Getet. Oleh anak buahnya, Michael dipanggil Bozzo. Tapi, usaha Michael tak lama. Pada 2009, ia tertangkap dan kerajaannya runtuh. 

kampung ambon2 - cnn indonesia
Warga Komplek Permata, Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta, Rabu (17/9/2014) menunjukkan hasil kerajinan tangan mereka. Setelah perlahan-lahan bebas dari narkoba, warga Kampung Ambon kini mengikuti berbagai macam pelatihan wirausaha yang diadakan oleh Badan Narkotika Nasional dan Polres Jakarta Barat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Level Operasi Setingkat Polda, Kini Persuasif
Shyenda juga bercerita, dulu, pengguna narkoba dengan bebasnya menghisap sabu di jalan-jalan kampung itu. Lantunan musik dan kelap-kelip lampu seperti diskotek terdengar hampir setiap malam. Ada pula puluhan CCTV mengintai di setiap mulut gang dan lapak narkoba, untuk memantau kondisi. Suasana ini sudah terjadi sejak periode 1999.
Tahun 2008, penggerebekan besar-besaran dilakukan polisi. Saat itu, kepolisian dari satuan Brigade Mobil (Brimob) Kedung Halang, Bogor, Jawa Barat, membasmi peredaran narkoba.
“Ingat betul saya, mereka menduduki kampung ini selama enam bulan mulai Juli-Desember 2008. Peredaran ganja mati,” tutur Syenda yang tinggal di Kampung Ambon sejak 1973.
Terbenam ganja, terbitlah sabu. Setelah polisi meninggalkan lokasi itu, narkoba jenis sabu pun masuk awal Januari 2009. Para bandar narkoba membuat restoran-restoran narkoba di kampung ini. “Banyak bandar narkoba yang bersinar. Sebelum diringkus Polda Metro Jaya pada 2012, para bandar memiliki lapak paling banyak,” katanya.
Seingat Syenda total lapak narkoba yang ada di kampungnya itu berjumlah 47 lapak. Dari Jalan Nilam, Berlian, Intan, Safir, Mirah, Akik, Kristal, Jambrud, Kecubung, Biduri, Badar, dan Pirus semua ada lapak narkoba. Hanya di Jalan Mutiara yang tidak ada lapak.
“Dari sembilan RT di RW 07, yang ada peredaran narkoba itu mulai dari RT 1 sampai 7. Semua itu berada di dalam Kompleks Permata,” ucapnya.
Uniknya, tidak ada bandar yang memonopoli peredaran narkoba di kampung itu. Bandar-bandar memiliki lapak masing-masing.
Kondisi ini membuat kompleks tersebut menjadi terkenal peredaran narkobanya. Alhasil, banyak warga yang ikut dilibatkan dalam narkoba.
Saat itu, peredaran barang haram tersebut berjalan rapi karena disusun oleh banyak warga masyarakat dan semuanya saling melengkapi. Dari tukang ojek, petugas keamanan, ibu-ibu, pemuda, dan si pengedar sendiri.
“Dulu tukang ojek saja bisa mendapat penghasilan Rp 700.000 sehari cuma mengantar pasien (pelanggan). Tukang parkir Rp 700.000 jaga parkir satu lapak saja. Bagian menimbang narkoba penghasilannya Rp 8 juta, cuci cangklong Rp 3,5 juta, tukang bersih-bersih Rp 2-3 juta. Semua dilakukan hanya satu sif (per 8 jam) setiap lapak,” tuturnya.
Lebih jauh, tiap rumah mendapat “uang berisik” Rp 350.000 setiap minggunya. Ini diberikan sebagai bentuk maaf atas ketidaknyamanan warga setiap malam.
Saking rapinya, razia narkoba di lokasi ini harus dilakukan sampai level Polda dan Mabes Polri. Kalau hanya setingkat Polsek atau Polres, polisi memilih putar balik daripada digebuki warga.
Razia yang sudah dikonsep polisi juga kerap diketahui para bandar dari oknum polisi yang kerap menikmati sabu di kompleks itu. Bocoran berita pun mulai dari tukang ojek di persimpangan Daan Mogot, penjaga gardu, dan setiap titik keamanan dilengkapi handy talkie dan ponsel untuk memantau sepanjang malam.
Ketua RW 07, Yeni Napitupulu mengatakan, adanya kekerabatan yang erat membuat peredaran narkoba sulit diberantas. “Mereka semua saling saudara. Banyak juga warga yang tertekan karena ada peredaran narkoba. Tapi, mereka juga tidak mau melapor ke polisi karena saudara mereka sendiri yang terlibat,” ceritanya.
Seringnya razia yang dilakukan aparat juga mengganggu kenyamanan warga sekitar. Mereka yang tidak terlibat terkena getah dari razia yang cenderung beradegan keras.
“Di sini banyak orang tua dan anak kecil. Kalau ada penggerebekan, warga tentu terganggu. Belum lagi suara tembakan dan keributan, membuat warga takut. Jadi warga pikir, lebih baik tidak usah digerebek karena menakutkan,” tuturnya.
Namun, kini situasi sudah berubah. Penanganan aparat kepolisian secara persuasif membuat warga kian dekat dengan polisi. Upaya pendekatan dan beragam kegiatan yang dilakukan kepolisian membuat warga nyaman berdekatan dengan polisi.
“Ini setelah warga mendapat penanganan persuasif dan pelatihan keterampilan. Usaha selanjutnya, memberikan bantuan lapangan pekerjaan dan modal usaha kepada mereka supaya tidak balik menjadi pengedar,” katanya.
Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Fadil Imran saat itu mengungkapkan, polisi intensif melakukan pendekatan kepada warga Kampung Ambon. Ini sebagai upaya melakukan tindakan berkala untuk mencegah kembali maraknya narkoba di kampung tersebut.
“Setelah kegiatan razia, penggerebekan, dan penindakan tegas secara intensif kami lakukan untuk mencegah peredaran narkoba, polisi perlu melakukan pendekatan kepada warga sebagai langkah persuasif guna mencegah kembali maraknya narkoba,” ucapnya.
Aparat BNN Kota Jakarta Barat juga melakukan pendekatan persuasif dan melakukan pembinaan kepada warga setempat. Bahkan didirikan sejumlah posko anti narkoba di lokasi tersebut.
Hasilnya positif, secara bertahap suasana seram di Kampung Ambon mulai mencair. Bahkan tidak lagi terlihat peredaran narkoba yang dilakukan secara terbuka seperti dulu. Karena itu, tak sedikit juga warga yang kaget mendengar penggerebekan oleh aparat kepolisian pada Sabtu (23/1/2016) lalu. (*)




0 komentar:

Posting Komentar