Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas

Cerita tentang Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, menarik ditelisik kembali menyusul penggerebekan ratusan aparat kepolisian bersenjata lengkap

Sejarah Kota Ambon Masa Lalu

Kota Ambon punya sejarah panjang. Sudah lebih dari 400 tahun, kota berjuluk Amboina atau Ambon Manise ini, menjadi saksi sejarah peradaban manusia di Maluku.

Sisi Lain Tentang Ambon, 5 Fakta yang Perlu Diketahui

Sisi lain tentang Ambon yang mungkin perlu kita ketahui sebagai referensi jika ingin berkunjung ke Kota Ambon. Berikut 5 fakta unik tentang Ambon.

6 Realita yang Bikin Bangga Jadi Orang Ambon

Masih ada yang ingat penggalan lagu di atas berasal dari mana? Yep lagu daerah Ayo Mama itu asalnya memang dari Ambon, Ibukota Provinsi Maluku yang tak pernah berhenti memikat hati.

Cerita di Balik Sebutan Kampung Ambon

Kompleks Permata yang terletak di Kelurahan Kedaung, Kali Angke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, cukup populer dengan sebutan “Kampung Ambon”.

Selasa, 22 Maret 2016

PELAYANAN MENEMBUS BATAS ( Bagian 1)



PELAYANAN MENEMBUS BATAS ( Bagian 1)
By. J.  Labery
Refleksi:
Sebuah Pelayanan Menembus batas adalah pelayanan dengan hati yang tulus untuk membantu sesama umat manusia agar lebih baik dan berguna bagi Bangsa dan Negara. Yayasan Batu Karang Nusantara Cabang Saumlaki bekerja sama dengan JPCC Jakarta terpanggil dan hadir untuk membantu dan mendukung  Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat serta bekerja sama dalam rangka menangani gizi buruk dan penyediaan saluran air bersih.  Dari Pelayanan Menembus Batas ini kirannya membuka hati dan kepedulian kita agar tetap menjadi berkat bagi sesama umat manusia. Berikut ini kami sajikan Pelayanan Menembus Batas  diKabupaten Maluku Tenggara Barat:

Pelayanan Gizi Buruk

Yayasan Batu Karang Nusantara Cabang Saumlaki bekerja sama dengan Puskesmas kelurahan saumlaki  dalam rangka mengumpulkan data-data mengenai anak-anak yang tergolong dalam gizi buruk dan selanjutnya layak mendapatkan perhatian dan pelayanan khusus.
Pelayanan gizi buruk dipusatkan di Kecamatan Tanimbar Selatan yang terdiri dari 1 Kelurahan dan 3 desa dengan perincian sebagai berikut:
  
Kelurahan Saumlaki terdiri dari 2 (dua) orang 

SRI LESTARI lahir pada tanggal 6 September 2012. Pada saat pertama kali kami kunjungi tanggal 28 Mei 2015, berat badan 8 kg. Bantuan yang di berikan berupa pemberian susu SGM dan pelayanan doa mulai dari bulan Mei 2015 sampai dengan bulan Oktober 2015, dan puji Tuhan anak tersebut sudah sehat,  berat badan terakhir 13 kg. Selanjutnya dari pihak Puskesmas sudah menyarankan untuk sementara bantuan di hentikan sambil  kami memantau perkembangan sang putri sri lestari, anak yang pintar dan cerdas.

MONIKA DITIOMASE lahir pada tanggal 20 februari 2014. Pertama kali kami kunjungi pada tanggal 28 Mei 2015 berat badan, 6,9 kg. Mulai saat itu kami mulai memberikan bantuan berupa susu SGM dan sesuai kebutuhan dan pelayanan doa. Puji Tuhan berangsur-angsur mulai mengalami perubahan. Namun sampai dengan akhir bulan Agustus 2015, Yayasan Batu Karang Nusantara Cabang Saumlaki tidak bisa melanjutkan pelayanan karena yang bersangkutan sering berpindah tempat dan sampai saat ini tidak tahu keberadaan mereka. Biarlah Monika Detiomase menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Desa Sifnana 1 ( satu ) orang.

MARTHA LAMERE lahir pada tanggal 22 Desember 2014. Pertama kali kami kunjungi tanggal, 31 Mei 2015 kondisi marhta sangat memprihatinkan, berat badan 3,9 kg. kami juga melakukan pelayanan yang sama yakni bantuan susu Lactogen dan pelayanan doa sampai dengan bulan Juli 2015. Namun Martha Lamere tidak mengalami perubahan karena sering mengalami sakit batuk dan selanjutnya kami mengambil inisiatif untuk pengobatan  ke dokter. Puji Tuhan Martha mengalami perubahan yang luar biasa setelah mendapatkan pengobatan rutin dari dokter dan timbangan terakhir berat badan 4.5 kg pelayanan terus kami lanjutkan sampai dengan bulan desember dan Martha terus mengalami perubahan.  Rencana buan Januari 2016 kami juga akan menghentikan bantuan susu kepada Martha dan terus kami    pantau perkembangannya. Semoga Martha menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Desa Lermatang Satu Orang.

DERIKA EMRAY lahir pada tanggal, 27 Maret 2014 Pertama kali kami kunjungi tanggal, 31 Mei 2015.  Pada saat itu kami lihat kondisi Derika Emray yang sangat memprihatinkan karena yang bersangkutan selain mengalami gizi buruk, juga mengalami sakit paru-paru, berat badan pada saat itu 3,2 kg, tindakan awal yang kami lakukan adalah memberikan bantuan susu dan selanjutnya Derika segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dan arahan dokter adalah harus mendapatkan pelayanan lanjutan yaitu pengobatan rutin selama 6 bulan. 

Puji Tuhan Derika berangsur-angsur kesehatannya mulai di puluhkan. Hasil pemeriksaan terakhir bulan November Derika Emrai telah sembuh. Bulan Desember kami  telah menghentikan bantuan susu SGM, namun kami masi tetap memantau perkembangan Derika Emray. Semoga Derika menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Desa Latdalam jumlah 3 (tiga) orang. 
GEALIN lahir pada tanggal, 3 Januari 2013 dua bulan setelah kelahiran Gealin, ibunya pergi meninggalkan dia. Dan mulai saat itu dia diasuh oleh Kakek dan Neneknya sehingga keadaannya semakin buruk, dia bukan saja menderita gizi buruk tetapi juga penglihatan Gealin mengalami gangguan. Pertama kali kami mengunjungi gealin pada tanggal,2 Juni 2015 berat badannya  5.4 Kg.

Kami hanya bisa mengunjungi gealin selama 3 (tiga) bulan karena kondisi jalan yang menuju ke desa latdalam rusak berat sehingga kami tidak bisa memantau perkembangan Gealin. Namun kalau ada yang datang dari desa kami berusaha untuk mengirim susu SGM buat Gealin. Sampai saat ini kami belum bias mengunjungi Gealin.    Semoga Gealin menjadi anak yang sehat dan cerdas.

BRAYEN dan BRIYAN Lahir pada tanggal, 3 Januari 2015 keduanya adalah bayi kembar. Pertama kali kami mengunjungi  Brayen dan Briyan tanggal, 2 Juni 2015 kedua bayi ini mengalami kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan berat badan  Brian 4,10 kg dan Brayen 3,6 kg. Kami membantu mereka dengan memberikan bantuan susu selama 2 bulan mulai bulan Juni sampai dengan awal Agustus.  Selanjutnya kami tidak memberikan bantuan lagi karena Brayen dan Briyan telah berangkat ke Ambon untuk pengobatan lanjutan.

Akhir dari sebuah pelayanan adalah untuk Pujian Kebesaran Tuhan Yesus Kristus, kiranya Pelayanan ini dapat membantu anak-anak yang kurang beruntung dan mereka dapat menjadi putra - putri yang berguna bagi generasi mereka.  ( YBKS-JPCC Jakarta)













Senin, 21 Maret 2016

NYONG AMBON ALA JAKARTA


NYONG AMBON ALA JAKARTA
( P. Saiya )

Pada tahun 1994 silam, ketika saya masih berusia 19 tahun masih sangat kuat, cekatan dan masih sanggup untuk lompat tembok, sekarang pun masih sanggup asalkan bukan tembok berlin. Pada saat itu di ambon terkenal dengan istilah pelarian ke jakarta artinya menjadi penumpang kapal tanpa tiket ( Penumpang Ilegal gitu lho). Caranya cukup sulit secara diam-diam kita menyusup masuk ke dalam kapal kemudian bersembunyi di bagian kapal yang sulit di lacak sehingga pada saat pemeriksaan tiket tidak ditemukan pelarian tersebut.

Masa itu kapal Pelni atau dikenal dengan Kapal Putih sangat terkenal sehingga kapal ini dipakai untuk anak – anak Ambon melakukan pelarian ke Jakarta, kalau beruntung bisa tembus ke Jakarta. Setiap pos atau pelabuhan di adakan pemeriksaan tiket kalau lolos bisa tujuan pos terakhir adalah Jakarta.
Nah, serunya disini, dimana? Dijarkarta lah, tadinya pakai beta sekarang sudah pakai lhu dan gue. Saya jadi ingat guyonan teman saya, ia cerita tentang seorang  pemuda  yang dari ambon datang ke Jakarta, begini guyonannya” Jhon, jhon lhu kemana aja? Gue tunggu – tunggu ose seng datang” hahaha, ini yang disebut kolaborasi budaya dan bahasa.

Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan” bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. 11 Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk; dalam bahasa Inggris sepadan dengan fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Tetapi kata iwak dalam bahasa jawa bukan hanya berarti ikan atau fish. Melainkan juga berarti daging yang digunakan juga sebagai lauk (teman pemakan nasi). Malah semua lauk seperti tahun dan tempe sering juga disebut iwak.

Sama halnya dengan mengunakan kata seng dalam bahasa Indonesia di sebut atap tetapi kata seng dalam bahasa Maluku artinya tidak jadi menurut saya ini di sebut dengan kolaborasi budaya dan bahasa  sehingga membutuhkan waktu untuk penyesuaian bahasa dan budaya.  Perlu waktu yang cukup lama untuk dapat menyesuaikan satu bahasa ke bahasa yang lain mengingat keadaan dan situasi satu daerah berbeda. Tetapi tidak sukar dan  sulit  untuk “ Nyong Ambon Ala Jakarta”  Sejak awal nyong ambon sudah  sering bahkan hampir setiap waktu ia mendengar cerita heroic tentang sukses story dari para pendahulunya yang berhasil kabur dari ambon menuju Jakarta ini yang membuat adrenalin nyong ambon semakin cetar membahana orang ambon bilang pele putus, malintang patah ( artinya siapa yang menghalangi pasti putus atau tembus dan siapa yang menghalagi pasti patah/remuk).

Dalam satu hari saja nyong ambon sudah bisa taklukkan Jakarta, kalau gue sih ngga percaya. Memang  Hidup di Jakarta harus punya nyali 1000 tidak boleh takut kepada siapa pun. kisah – kisah heroic telah menjadikan nyong ambon berubah total.  Siapa saja nyong ambon ala Jakarta yang berani taklukan Jakarta.

RIKO PATIKASI.
Rico Patikasi, pemuda asal Tanah Tinggi, Ambon, akhirnya tewas di tembak polisi di kawasan tanah tinggi, johar baru, Jakarta, jumat (22/1/2016). Rico terlibat baku tembak saat aparat polisi gabungan melakukan penggrebekan.  Rico juga dikenal merantau sudah cukup lama di Jakarta dan sering pulang berlibur ke Ambon dan tinggal di kawasan Johar Baru sejak 2004 lalu ( sumber suaramaluku.com).
Biar orang mau bilang apa lai” Pastiu” Beta sudah bisa Taklukan Jakarta. Frasa ini yang beta sebut “ Nyong ambon ala Jakarta”.

Refleksi: Perubahan seseorang bukanlah di tentukan dari kata-kata semata tetapi dari sebuah karakter.

Curahan "Sang Serdadu"


Curahan "Sang Serdadu"
By.Leon Brown

PONDOK kecil di tepi Pantai Nama, barat Pulau Kisar, Maluku, siang itu sunyi. Kicau camar yang melayang di kejauhan pun terdengar jelas. Dua laki-laki bercelana pendek mengecek perahu karet yang penuh tambalan di tepi pantai.
Selesai dengan tugas rutin, suatu siang di akhir Juni lalu, dua anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut itu duduk santai di pos. Berdua mereka menjadi penghuni pos berukuran 8 meter x 6 meter.
Tak ada nuansa sangar dari sebuah markas prajurit yang menjaga garda terdepan Nusantara. Padahal, pos yang terletak di Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, itu hanya berjarak 12 mil laut atau 22 kilometer dari Timor Leste.
”Kalau bosan, ya, main catur atau video game berulang-ulang. Kalau masih bosan, ya, melamun saja,” ujar Zakaria (21), salah satu penjaga pos berpangkat kelasi dua telegrafis. Ia baru bergabung di pos itu selama empat bulan terakhir menemani sang komandan yang sebelumnya bertugas sendirian.
Seperti hari-hari sebelumnya, siang itu, kedua prajurit yang menginduk pada Pangkalan Utama TNI AL VII Kupang itu lebih banyak diam di pos. Mereka tak leluasa berpatroli karena keterbatasan sarana pendukung. Mereka hanya memiliki satu perahu karet dengan mesin tempel berkekuatan 40 PK.
Bahan bakar pun dijatah. Setiap tiga bulan, pos kebagian 60 liter bensin, 200 liter solar, dan 60 liter oli. Jumlah itu harus dibagi untuk motor operasional dan generator sumber listrik pos.
Sekali patroli keliling Kisar butuh 40 liter solar. Kalau seminggu sekali patroli, jatah solar sudah habis sebulan.
”Kami ini garda terdepan sekaligus umpan,” kata Letnan Dua Laut (Teknik) Cahya Dharmawan, Komandan Pos TNI AL Pulau Kisar, getir. Bukan mengeluh, tetapi keterbatasan itu membuat mereka tak bisa bekerja profesional.
Kemampuan SAR mereka pun tak termanfaatkan. Akibatnya, saat ada kecelakaan laut yang menimpa perahu nelayan, mereka tidak bisa banyak membantu.
”Jelas sedih tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjangkau lokasi kecelakaan. Paling kami hanya berkoordinasi dengan nelayan lain atau petugas Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai Kementerian Perhubungan yang alatnya lebih lengkap,” tambah Cahya, yang bertugas di Kisar sejak November 2012.
Ironisnya, ada beberapa kapal cepat (speedboat) milik pemerintah kabupaten setempat terbengkalai tak terpakai di dekat pos tersebut. Namun, sekadar meminjam kapal itu untuk patroli pun tidak diizinkan.
Keterbatasan personel dan sarana membuat TNI AL dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan pemerintah setempat, apalagi oleh pihak asing. Posisi Kisar yang berbatasan dengan Timor Leste dan dekat Australia membuatnya sangat rawan. Perairan selatan Kisar sering menjadi lokasi transaksi jual beli minyak ilegal di atas tanker yang biasa disebut dengan istilah ”kapal kencing”.
”Pergi ke sana dengan perahu karet hanya membahayakan nyawa sendiri,” ujar Cahya, yang pernah bertugas di KRI Nanggala 402.
Sebagai satu dari 92 pulau terluar Indonesia, Kisar sangat rawan gangguan kedaulatan. Ancaman itu diperparah dengan ketertinggalan pembangunan di Kisar. Alih-alih dijaga dan dihias rapi, beranda depan Nusantara itu justru diabaikan dan ditinggalkan.

La Awir, Tukang Gerobak, Yang Bermukim Dalam Gerobak Pangsit


La Awir, Tukang Gerobak, Yang Bermukim Dalam Gerobak Pangsit
By.Leon Brown

Baju seadanya, bercelana pendek. Menggunakan sandal jepit dan dilengkapi tutup kepala alias kupluk, merupakan ciri khasnya jika hendak mencari nafkah. Santun dan rendah hati, membuatnya selalu dihargai teman-teman sesamanya.
Bahkan, kadang membuat orang terharu akan hidupnya yang tak pernah bergantung kepada orang lain.
a Awir (60), perantau asal daerah Lombe, Sulawesi Tenggara, yang puluhan tahun hidup dengan menarik gerobak, di jalan Yosudarso, kecamatan Sirimau, Ambon. Tak memiliki rumah untuk bernaung.
Hanya beralaskan kardus dan beratapkan langit. Pria paruh baya, yang hidup sebatang kara ini, selalu menjadikan gerobak sebagai tempat peristirahatannya di malam hari. Lokasi tidurnya, juga tak jauh dari tempat pangkalannya. Disekitar area pasar Nusaniwe (pasar Lama) kecamatan Sirimau Ambon.
Ketika matahari menyinarinya yang sedang tertidur lelap, mau tak mau Ia harus bangun dan bersiap-siap untuk mencari sesuap nasi. Sambil menggunakan gerobak yang disewanya sekitar Rp.10.000/hari. Dari teman dekat yang sekampung dengannya.
“Beta (saya, red) sudah sekitar 25 tahun bawa gerobak. Waktu kecil lagi sudah merantau ke Ambon. Di Ambon tidak punya rumah. Setiap hari tidur di gerobak. Biasa kalau malam itu, apalagi sudah ngantuk, langsung ke belakang pasar lama, lalu tidur. Kan sudah biasa,” cerita La Awir, kepada saya.
Walaupun cuaca panas, maupun hujan, tak membuat La Awir patah semangat untuk menarik gerobak. Jika ada yang membutuhkan jasanya, Ia langsung bersedia melayani dengan sepenuh hati. Hingga tiba pada tujuan, dengan upah yang tak menentu.
Namun, ia tetap iklas menerima bayaran yang diberikan pelanggan. Walaupun kadang tidak seimbang dengan tenaga yang telah dikeluarkan, Ia hanya bisa tersenyum. Akan tetapi, adapula pelanggan yang merasa kasihan atau ibah terhadap La Awir.
Ia kadang diberi upah lebih dari pelanggan, ketika hendak mengantarkan barang ke rumah pelanggan yang menggunakan jasanya.
“Kadang Rp.30 ribu, atau ada Rp.40 ribu. Dan satu hari itu bisa Rp.50 ribu atau lebih. Tergantung pelanggan. Kadang juga tidak sama sekali. Mau gimana lagi,” senyum La Alwi, ketika menjawab pertanyaan saya.
Jika tak mendapat pelanggan dalam satu hari, La Awir biasa tidak membayar setoran kepada pemilik gerobak. Tetapi, besoknya jika sudah dapat pelanggan lagi, barulah setorannya Ia bayarkan. Bersama dengan setoran kemarin yang tidak sengaja dia tunggak.
Akan tetapi, dengan perkembangan dunia yang lebih modern, serta persaingan ekonomi yang lebih ketat, tak membuatnya berkecil hati. Walaupun dikelilingi dengan jasa-jasa supir mobil pick-up maupun mobil truck, La Awir hanya pasrah sambil menanti pelanggan yang ingin menggunakan jasa gerobak.
Ia tidak merasa iri dengan para supir-supir yang ada. Karena menurutnya, rejeki itu sudah diatur Yang Maha Kuasa. Dan Ia yakin, setiap umat pasti akan diberikan rejeki yang sesuai. Maka tidak perlu untuk menyimpan sifat iri maupun dengki terhadap sesama pencari nafkah.
“Kalau dulu boleh, setoran gerobak cuma Rp.5 ribu. Tapi sekarang sudah naik Rp.10 ribu. Dulu banyak pelanggan, tapi sekarang sudah kurang. Kan banyak mobil. Tapi rejeki itu tuhan sudah atur,” tutur La Awir.
Dirinya lebih memilih parkir di jalan Yos Soedarso sambil menunggu pelanggan yang hendak menggunakan jasanya. Ketimbang disekitar pasar Mardika maupun tempat lainnya. Karena suasana tempat parkirnya cukup strategis, dimana berdekatan dengan pasar maupun pertokoan yang menjual barang-barang sembako maupun alat-alat bangunan.
Adapun disaat-saat sepi pelanggan, tetap membuatnya bersabar hati. Karena hasil yang Ia dapatkan kemarin, masih cukup untuk membiayai makan minumnya saat itu. Sehingga Ia tidak pernah berkecil hati jika mengalami masa-masa sulit seperti itu. Karena tetap selalu ada rezeki yang ia dapatkan untuk bertahan hidup.
Seluruh daerah dataran rendah yang ada dipusat kota Ambon, sudah ia jelajahi. Talake, Waihaong, Silale, Ponegoro, Batu Gajah, Batu Merah, dan kapaha, sudah ia jelajahi menggunakan gerobak miliknya.
Karena pelanggan yang tinggal di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan angkot maupun mobil pick-up, sering menggunakan jasa gerobak. Termasuk jasa La Awir.
“Biasa itu, kalau orang beli kayu, tripleks, atau kadang beras, kadang mereka pakai gerobak. Karena mereka tinggal masuk lorong-lorong. Itu kan mobil tidak bisa masuk. Jadi pakai jasa gerobak,” terang dia.
Soal keluarganya, La Awir mengaku, bahwa saat ini keluarganya berada di kampung Lombe tempat Ia dilahirkan. Dan hanya beberapa teman-teman maupun saudara sekampungnya yang bermukim di kota Ambon. Yang terkadang membuat dirinya bermalam satu sampai dua hari dengan mereka.
Namun itu pun tergantung momen-momen penting. Seperti jika hendak Bulan Ramadhan, dimana Ia sering diajak untuk bukan puasa bersama maupun sahur bersama. Bahkan jelang Idul Fitri maupun Idul Adha.
Dan tidak sembarangan waktu, atau sesuka hatinya. Karena tentu Ia lebih menghargai teman maupun saudaranya yang sudah berkeluarga. Sehingga tidak berkeinginan untuk merepotkan mereka.
Walaupun makan seadanya, La Awir lebih mensyukuri apa yang didapatkan dengan hasil jerihpayanya sendiri. Bahkan sempat berkeinginan untuk memiliki gerobak sendiri dari hasil kerjanya.
Namun, keinginan itu nampaknya belum terpenuhi. Karena sudah puluhan tahun La Awir hidup sebagai tukang gerobak, tanpa punya gerobak sendiri.
“Dari dulu sewa-sewa. Ingin beli gerobak, tapi uang tidak cukup, Buat hidup sehari-hari kan pas-pasan. Jadi belum sempat punya gerobak sendiri. Jadi sementara sewa dulu. Nanti kalau sudah ada, pasti punya gerobak sendiri,” ucap La Awir.


Matinya Kapitan Marunda


Matinya Kapitan Marunda
By.Leon Brown

Di masa kejayaan VOC, banyak pemberontak pribumi yang berbelok menjadi abdi kompeni. Salah satunya putra Maluku bernama Jongker, penguasa Marunda.
GEDUNG munggil bertembok kusam itu terpuruk di sudut Pelabuhan Alfa Pejongkeran, Marunda. Catnya yang bercorak merah putih sebagian mulai terkelupas dimakan waktu. Tepat di bagian atas pintu besinya bertengger sebuah lafaz Arab berbunyi:bismillahirohmanirrohim. Sekilas orang akan menduga gedung itu tak lebih gudang tua semata. Terlebih dengan rimbunan pohon kersen dan semak belukar di sekelilingnya, kesan itu seolah semakin kuat.
Saya mengarahkan lensa kamera ke bagian dalam gedung tua yang tergembok itu, lantas mengatur ketepatan jaraknya.Klik…Klik..Klik. Lewat lubang kunci yang berdiameter sekitar 4X3 cm, jadilah saya mengambil gambar pemandangan yang ada di dalam ruangan gedung tersebut: sebuah makam tua bermarmer putih kusam dengan tiga tangkai sedap malam layu di atas nisannya. Lalu makam siapakah itu gerangan?
“Kata orang-orang tua dulu sih, itu makam Panggeran Jafar alias Kapiten Jongker,”ujar Inan (43), seorang tukang ojek yang sehari-hari mangkal di sana.
Keterangan Inan memang tidak salah. Di bawah makam tua itu, memang dikebumikan seorang lelaki bernama Kapitan Jongker (atau Jonker). Itu nama seorang putra Maluku yang menjadi jagoan kompeni dan penguasa Marunda sekitar 400 tahun yang lalu. Bahkan begitu berkuasanya Jongker hingga, ”Namanya diambil untuk menyebutkawasan ini yakni Pejongkeran,”katawarga asli Marunda tersebut.
Dalam catatan sejarah versi Belanda, nama Jongker memang ada disebutkan. Menurut salah satu ahli sejarah Hindia Belanda terkemuka yakni F.De Haan, nama itu memang tertulis dalam sebuah akte VOC bertahun 1664 sebagai Joncker Jouwa de Manipa. “Nama Manipa bisa jadi mengacu kepada tempat dia berasal yakni Pulau Manipa di Seram Barat,Maluku,” tulis De Haan dalam Oud Batavia
Awalnya Musuh VOC
Sekilas nama Jongker sangat berbau Belanda dan identik dengan nama Kristen. Namun banyak sejarawan percaya bahwa sesungguhnya Jongker adalah seorang Muslim. Salah seorang sejarawan Belanda yang mengimani soal itu adalah J.A. Vander Chijs. “Dari lahir sampai meninggal, Jongker adalah seorang pengikut Muhammad,”tulisnya dalam Kapitein Jonker.
Jonker memang putra Maluku tulen. Dia lahir di Pulau Manipa pada 1620 dalam nama Achmad Sangadji Kawasa. Nama terakhir mengacu kepada nama sang ayah yakni Kawasa,seorang Sangadji (jabatan setingkat Bupati) yang diangkat langsung oleh Sultan Ternate bernama Hamzah. Saat pengangkatan tersebut usia Jonker baru 18 tahun.
Sangadji muda begitu terkesan dengan kewibawaan sang ayah. Ia memiliki cita-cita untuk bisa sekuat dan sewibawa ayahnya. Karena itu, ketika sang ayah menyatakan Mapia ikut berperang melawan VOC dalam Perang Hoamoal(1651-1656), dengan semangat mengebu, Achmad Sangadji melibatkan diri. Salahsatunya dengan melakukan pelayaran ke Makassar guna mencari bantuan amunisi dan dukungan politik.
Sayang, kekuatan Manipa tidak seimbang dengan VOC. Alih-alih bisa menghancurkan orang-orang Belanda, benteng Manipa malah hancur dan para pemimpinnya ditawan oleh VOC.Termasuk Achmad Sangadji dan seluruh keluarganya. Sejak itulah, ia yang sebelumnya dikenal musuh VOC berbalik mendukung perusahaan dagang multinasional pertama di dunia itu. Bahkan bukan hanya secara politik, Achmad Sangadji juga melibatkan diri dalam kemiliteran VOC.
Belum ada keterangan sejarah yang menyebutkan musabab Achmad Sangadji menjadi pengikut VOC. Apakah itu merupakan sebuah bentuk kompromi politik? Sepertinya para ahli sejarah harus lebih dalam meneliti soal ini. Namun yang jelas, H.J De Graaf menyatakan sejak bergabung dengan militer VOC, Sangadji ditempatkan oleh Arnold de Vlamingh van Oudtshoorn (Gubernur VOC untuk Maluku) menjadi anggota kompi Kapitain Tahialele, putra dari Raja Luhu yang juga ikut menyerah kepada VOC.
“Kompi orang-orang Ambon ini ditempatkandi Batavia,”tulis De Graaf dalam De geschiedenis van Ambon en de Zuid-Molukken.
Selanjutnya serdadu-serdadu asal Maluku banyak dilibatkan dalam berbagai operasi militer VOC di berbagai tempat, mulai dari Kupang hingga ke kawasan India Selatan. Pada 9 Agustus 1657, Kompi Tahialele yang berkekuatan 80 prajurit ikut bergabung dengan pasukan besar VOC pimpinan Rijklof van Goens. Mereka bergerak menuju India dan Srilanka guna berperang menghadapi serdadu-serdadu Portugis.
Setahun mereka bertempur melawan orang-orang Portugis hingga pada 24 Juni 1658, VOC berhasil merebut Jafnapatnam, Diu dan Goa. Namun kemenangan itu harus dibayar mahal dengan gugurnya beberapa prajurit terbaik VOC termasuk Kapitain Tahialele. Untuk menggantikan posisi Tahialele, maka pada 1659 VOC mengangkat Achmad Sangadji sebagai komandan kompi dengan pangkat Kapiten.
Terlibat Berbagai Operasi Militer
Sejak memimpin Kompi Ambon, karier militer Achmad Sangadji melesat bak anak panah. Bersama pasukan Maluku-nya, Achmad Sangadji menjadi andalan VOC dalam menaklukan beberapa daerah di Nusantara. Salah satu daerah yang menjadi “pengatrol” karier militer Achmad Sangadji adalah Sumatera Barat, tanah air orang-orang Minangkabau.
Tersebutlah VOC yang pada April 1666 dipermalukan oleh orang-orang Minangkabau. Saat berupaya memadamkan pemberontakan rakyat Pauh, alih-alih mendapat kemenangan, 200 serdadu kompeni lintang pukang. Dari 200 serdadu yang dikirim, hanya 70 serdadu yang kembali hidup-hidup. Pimpinan pasukan VOC yang bernama Jacob Gruys termasuk korban yang tewas selain 2 Kapiten dan 5 Letnan.
VOC bertekad membalas kekalahan memalukan itu. Pada Agustus1666, Gubernur Jenderal Joan Maetsuyckerdi Batavia memerintahkan Angkatan Perang VOC untuk mengirim lagi 300 serdadunya ke Pauh: terdiri dari 130 serdadu Bugis pimpinan Aru Palaka (RajaBone) dan 100 serdadu Ambon dibawah Kapiten Sangadji. Sisanya terdiri dari serdadu Belanda totok yang langsung dipimpin oleh komandan gabungan bernama Abraham Verspreet.
Para serdadu Belanda totok tersebut mendapat prioritas pengamanan.Itu dibuktikan dengan adanya perintah langsung Gubernur Jenderal kepada Verspreet untuk mengatur setiap pertempuran dalam formasi: Pasukan Bugis dan Pasukan Ambon harus selalu berada di depan Pasukan Belanda. Itu jelas bertujuan menjadikan para serdadu bumiputera sebagai perisai hidup bagi para serdadu Belanda totok.
Peperangan yang kedua antara serdadu VOC dengan rakyat Minangkabau itu pun berlangsung cukup seru. Rusli Amran melukiskan saat berlangsung pertempuran , korban berjatuhan dari kedua belah pihak. VOC sendiri kehilangan 10 orang serdadu dan 20 lainnya luka-luka termasuk Kapiten Aru Palaka dan Kapten Achmad Sangadji, yang terkena 3 buah tusukan tombak.
“ Dalam setiap pertempuran, para serdadu bumiputera ini sering kali terpisah dengan pasukan induk. Itu disebabkan mereka begitu sibuk sendiri melakukan pembantaian dan pemenggalan kepala…” tulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat hingga Plakat Panjang.
Akhir pertempuran, Ulakan dapat diduduki pada 28 September1666. Dengan kemenangan itu, VOC mengganjar Aru Palaka menjadi Raja Ulakan versi kompeni. Dua hari kemudian serdadu VOC berhasil menguasai Pariaman. Sebagai penghargaan atas jasa-jasa Pasukan Ambon, Verspreet mengangkat Achmad Sangadji sebagai Panglima Kompeni Wilayah Pariaman ( orang lokal menyebutnya sebagai Raja Ambon) dan berhak mendapat upeti dari masyarakat setempat.
Awal November, pasukan gabungan VOC itu pulang ke Batavia. Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker memberikan banyak hadiah kepada mereka. Aru Palaka dan Achmad Sangadji sendiri mendapat pakaian dan emas serta masing-masing mendapat 20 ringgit untuk setiap tawanan yang dibawa dari Minangkabau.
Kesayangan Gubernur Jenderal Speelman
Kesuksesan Kapiten Sangadji di Sumatera Barat, membuat namanya populer di kalangan militer dan pejabat teras VOC. Sebagai bentuk penghormatan,pada 1 Januari 1665, VOC mengangkat Sangadji sebagai kepala orang-orang Ambon di Batavia. Sejak itulah pamor Si Kapiten Maluku mulai mencorong.I tu menyebabkan ia kebanjiran “order” dari GubernurJenderal VOC untuk menumpas bebeberapa pergolakan rakyat di belahan Nusantara seperti di Jambi, Palembang, Jawa Timur dan Banten.
Dari situlah, karier militernya berjalan makin bagus. Salah satu prestasi militer yang menjadikan bintang Sangadji makin kinclong di hadapan VOC adalah saat ia berhasil memadamkan sekaligus menangkap Trunojoyo, seorang Madura yang melakukan pemberontakan besar terhadap kekuasaan Sultan Amangkurat II yang didukung oleh VOC.
Atas berbagai “prestasi” itu, adalah wajar jika kemudian Sangadji tampil sebagai serdadu kesayangan Gubernur Jenderal Cornelis Janszoon Speelman. Begitu sayangnya Speelman kepada putra Malukut ersebut, hingga ia menganugerahkan medali berbentuk rantai kalung emas(seharga 300 ringgit) dan menganugerahkan sebidang tanah di kawasan Pantai Marunda.Posisi inilah yang konon menjadikannya dipanggil sebagai Jonker yangartinya raja muda.
Namun tentu saja tidak berarti kejayaan Kapiten Jonker berjalan mulus. Demi menyaksikan kesuksesan Jonker, diam-diam ada perasaan dengki di kalangan serdadu Belanda totok. Menurut mereka, sehebat apapun Jonker, ia tetap seorang inlander (bumiputera) yang tak berhak memiliki jabatan tinggi. Sebuah sikap sok superior khas orang-orang kulit putih
Menurut sejarawan Van der Chijs, memang ada satu kelompok serdadu VOC yang tak senang dengan situasi tersebut. Mereka memendam perasaan iri dan dengki yang berkarat kepada Jonker. Klik tentara VOC itu dipimpin oleh seorang perwira sekaligus anggota Dewan Hindia. Namanya Isaac de Saint Martin.
Isaac adalah tipikal tentara politis yang memiliki kepandaian berstrategi. Ketika Jonker ada di puncak kesuksesannya, ia tidak memperlihatkan sikap dengkinya itu. Namun pasca meninggal Speelman pada 1884, mulailah ia dan kelompok intelejennya menyebar gossip: Jonker sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan terhadap kekuasaan VOC di Batavia. Ia disebutkan ingin membunuh semua orang-orang Belanda di Batavia karena mereka beragama Kristen. “ Itu jelas sebuah tuduhan yang sangat serius di Batavia saat itu, karena akan berakibat hukuman mati,”tulis Van der Chijs.
Akhir Tragis Penguasa Marunda
Jonker bukan tidak mengetahui soal gosip miring tentang dirinya. Dari tempat tinggalnya di Marunda, ia dan kelompoknya berusaha sekuat tenaga menyangkal semua yang dituduhkan kepada mereka. Dan memang secara logis, adalah konyol jika Jonker ingin melakukan pemberontakan, mengingat begitu kuatnya kedudukan Pemerintah Pusat di Batavia saat itu.
Namun pengaruh Issac de Saint Martin terlalu kuat di Batavia. Selain munculnya sentiment rasis di kalangan orang-orang Belanda, bisa jadi itu juga disebabkan oleh kekurangtahuan akan situasi politik dari Gubernur Jenderal Johannes Camphuys yang baru saja menggantikan Gubernur Jenderal Speelman yang mati mendadak. Akibatnya mau tidak mau, Jonkerpun harus menjadi korban intrik politik para perwira Belanda.
Tahun 1688, Pemerintah Pusat di Batavia mulai mengawasi dan menyempitkan gerakan Jonker. Beberapa fasilitas yang didapatnya dari Speelman mulai dilucuti. Di lain pihak provokasi terus dilakukan oleh Issac de Saint Martin dan kliknya di tubuh Angkatan Perang VOC. Setahun kemudian, mungkin karena tidak kuat lagi dengan berbagai tekanan, intrik dan pengawasan , Jonker dan kelompoknya terprovokasi untuk menyerang Batavia.
Penyerangan itu memang gagal, karena saya pikir Jonker melakukannya setengah hati. Tidak disebutkan jumlah korban yang jatuh dalam penyerangan itu. Namun yang jelas, saat itu Pemerintah Pusat Batavia sendiri seolah-olah“memaafkan” ulah Jonker tersebut. Rupanya itu hanya “tipu-tipu gaya Holland” semata. Setelah berhasil mendinginkan Jonker dan pasukannya, beberapa harikemudian Angkatan Perang VOC justru mengirimkan ratusan pasukannya lewat darat dan laut. Marunda dikepung dari tiga penjuru.
Malangnya, Kapiten Jonker tidak menyadari kelicikan orang-orang Belanda itu. Alih-alih bersiap siaga, konon sambil tertawa-tawa ia malahmenyambut kedatangan Kapiten Wan Abdul Bagus dan kawan-kawannya tersebut. Kapiten Wan Abdul Bagus atau Cik Awan adalah komandan Pasukan Melayu VOC, yang bermarkas di suatu tempat yang sekarang bernama Cawang, Jakarta Timur. Menurut Alwi Shahab dalam Robin Hood dari Betawi, nama Cawang sendiri diambil dari namanya yang sering dipanggil dengan istilah Melayu: Cik Wan.
Saat bersendagurau itulah, tiba-tiba sebutir peluru dari penembak runduk (sniper) VOC menghantam tubuh Jonker. Si Kapiten Maluku itu pun tewas seketika. Seiring dengan terbunuhnya Jonker, ratusan pasukan VOC secara kilat menyerbu posisi Pasukan Ambon yang sama sekali tidak sedang siap siaga. Akibatnya 130 prajurit Ambon terbantai dan mayatnya bergelimpangan di tepi Pantai Marunda.
Mayat Kapiten Jonker sendiri dievakuasi ke Batavia. Kepala jagoan Pasukan Maluku itu dipenggal dan sempat dipamerkan di kawasan Kota (Nieupoort). Setelah puas, barulah jasadnya dibawa kembali ke Marunda dan dimakamkan tepat di sebuah tepi Pantai Marunda, bekas tempat tinggalnya.
Gedung munggil bertembok kusam itu terpuruk di sudut Pelabuhan Alfa Pejongkeran, Marunda. Catnya yang bercorak merah putih sebagian mulai terkelupas dimakan waktu. Inilah saksi bisu dari pengkhianatan VOC kepada abdinya yang paling setia dan berjasa.

Disadur dari:Best Molluken

Selasa, 15 Maret 2016

Cerita di Balik Sebutan Kampung Ambon





Cerita di Balik Sebutan Kampung Ambon



JAKARTA - Kompleks Permata yang terletak di Kelurahan Kedaung, Kali Angke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, cukup populer dengan sebutan “Kampung Ambon”. Hal itu lantaran mayoritas warga yang bermukim di sana berasal dari Ambon, Maluku. Ternyata, ada sejarah panjang sampai akhirnya permukiman tersebut bisa menjadi sebuah kampung dari suatu etnis.
Mulanya, penghuni Kampung Ambon ialah eks personel KNIL (Koninklijke Nederlands Indisch Leger). Seperti diketahui, Belanda pernah mengerahkan tentara KNIL saat menjajah Indonesia. Negeri Kincir Angin itu pun memanfaatkan penduduk pribumi untuk disulap menjadi tentara. Karena itu, pemuda dari berbagai daerah di seluruh nusantara, seperti Jawa, Madura, Manado, dan Maluku dikumpulkan untuk menjadi satu pasukan. Pasukan tersebut hanya beranggotakan dari satu etnis atau suku.
Namun, saat Jepang berhasil menyingkirkan Belanda dari Tanah Air pada 1942, KNIL pun jadi melemah. Bahkan, tentara KNIL jadi tahanan perang oleh pihak Jepang. Pasukan Batalion X KNIL yang sebelumnya bermarkas di Hotel Borobudur itu pun diungsikan ke Gedung Stovia. Pasukan yang mayoritas beretnis Ambon itu bermukim di Gedung Stovia.
Hingga akhirnya, pada 1973, DKI Jakarta di bawah pemerintahan Gubernur Ali Sadikin menginventarisasi bangunan-bangunan bersejarah, termasuk Gedung Stovia. Meski ada penolakan dari warga Ambon yang sudah merasa kerasan bermukim di sana, setelah bernegosiasi, mereka akhirnya rela direlokasi di Perumahan Permata, Kelurahan Kedaung Kali Angke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Hingga kini, Perumahan Permata populer dengan sebutan “Kampung Ambon”, menilik dari etnis mayoritas yang bermukim di daerah itu.

Erha Aprili Ramadhoni
Jurnalis
Disadur dari:http://news.okezone.com/read/2016/01/25/338/1296182/cerita-di-balik-sebutan-kampung-ambon

Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas


Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas

Aparat kepolisian saat menggerebek Kampung Ambon, Sabtu (23/1/2016). Foto oleh elaenews.com

satumaluku.com- Cerita tentang Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, menarik ditelisik kembali menyusul penggerebekan ratusan aparat kepolisian bersenjata lengkap, Sabtu (23/1/2016) lalu.
Lepas dari hasil dan motif penggerebekan, tindakan ratusan polisi terbilang surprise karena sudah lebih dua tahun Kampung Ambon tak lagi digerebek personil dalam jumlah banyak.  Tetapi memang, Kampung Ambon punya kisah kelam di masa lalu dan banyak yang mafhum tentang itu. Berikut sekelumit kisah kampung di barat Kota Jakarta ini:
Dari Kampung Rawa, Jadi Kampung Narkoba
Kampung Ambon, sejatinya bernama Kompleks Permata, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Nama Kampung Ambon lebih disebabkan oleh sebutan warga Jakarta lantaran para penghuni perumahan tersebut adalah orang-orang Maluku.
Warga Maluku ini merupakan keturunan para mantan tentara Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Batalion X bentukan Belanda saat Perang Djawa (1825-1830). Lokasi markas Batalion X ini dulu berada di lokasi Hotel Borobudur.
Saat masa penjajahan Jepang, 1942 -1945, para mantan tentara KNIL beserta keluarganya dipindahkan ke sejumlah sekolah bangunan Belanda yang ditutup oleh Jepang.  
Saat itu Sekolah Dokter Djawa di STOVIA sudah pindah ke Jalan Salemba. Pada 1942 Gedung Utama STOVIA sudah berubah menjadi Algemeene Middelbare School (AMS)-kini jadi museum.
Sementara itu, dua gedung lain dipakai Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)-kini SMAN PSKD 1. Satu gedung lagi digunakan Darde School-kini SDN 03 Senen. Gedung-gedung ini berdiri sejajar di Jalan Kwini, Senin, Jakarta Pusat.
Semua kisah ini masih ingat betul di ingatan seorang Kepala Keamanan Sekolah PSKD 1, Jakarta Pusat, Raymond Raymondus Saru (69), ayahnya Prajurit KNIL asal Timor.
Menurutnya, pasukan eks Batalion X dipindah ke enam lokasi berbeda. Prajurit Maluku pindah ke gedung AMS, Darde School, dan MULO. Sementara itu, prajurit Timor pindah ke sebuah bangunan berstatus Eigendom Verponding, sejajar dengan STOVIA dan MULO. Lalu, prajurit eks KNIL Manado pindah ke Jalan Kramat VII.
Adapula prajurit yang pindah ke Berland dan Polonia Kamp. Letak Polonia Kamp sekarang berada di samping Gereja Vincentius, Jakarta Timur.
Tiga dekade kemudian, tepatnya pada Maret 1973, Gubernur Ali Sadikin memindahkan keluarga pasukan eks KNIL Maluku ke Kedaung Kaliangke (Kampung Ambon). Saat itu Pemprov DKI memindahkan 196 kepala keluarga atau sekitar 1.000 jiwa. Pemindahan itu terjadi mulai 25 Maret 1973. Lokasi perumahan yang mereka tinggal masih berbentuk rawa-rawa.
Ada sebagian warga yang memilih pulang ke Ambon atau memilih pergi dari tempat itu karena rumahnya terbuat dari kayu dan tripleks, seperti bedeng-bedeng, berjejer rapi dan belum dialiri listrik. 
Masa awal kepindahan warga Ambon di Kompleks Permata, kejahatan yang muncul adalah pemalakan. Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun 1990-an.
Perjudian sabung ayam juga sempat tenar pada periode 1990 ke atas. Dahulu polisi sering kali menggerebek judi sabung ayam. Belakangan, narkoba muncul.
Kawasan perumahan yang ditinggali sekitar 2.000 keluarga itu memang sempat dikenal sebagai “surga” peredaran narkoba. Di tempat itu, narkoba dijual secara besar-besaran meski tetap tertutup.
Saat Kapolda Metro Jaya dijabat Inspektur Jenderal Untung Suharsono Rajab, pada akhir 2011 lalu, operasi besar-besaran pernah dilakukan di Kampung Ambon. Sekitar 500 personel tim terpadu dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Mabes Polri, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Pempov DKI Jakarta menggerebek lokasi tersebut.
Dari operasi ini, kepolisian menyita 6.531 butir ekstasi, 4 ons sabu, 4 pucuk senjata api, 50 gram heroin, 15 pucuk senjata tajam, 4 kilogram ganja, 600 butir happy five, 1.000 bong, dan uang tunai Rp 218 juta.
Selain itu, 30 lapak berupa rumah dan warung juga disegel lantaran kedapatan menjual narkoba. Sebanyak 53 pelaku yang kedapatan ada narkoba juga diamankan dan langsung menjadi tersangka. Para pemakai narkoba banyak yang kedapatan sedang mengonsumsi barang terlarang di ruangan khusus yang ada di rumah-rumah tersebut.
Polisi juga menemukan mesin hitung dan timbangan untuk transaksi narkoba di rumah-rumah. Alat-alat ini bahkan tidak hanya ditemukan di rumah, tetapi juga di warung kecil di sekitar wilayah itu.
Di sejumlah rumah, ada ruangan khusus untuk mengonsumsi narkoba. Jadi, kalau mau beli dan makai, bisa langsung masuk di situ. Di sana juga ada tabel harga dan jenis barangnya apa dipampang. 


kampung ambon2- sablon
Pelatihan ketrampilan sablon yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk warga di Kampung Ambon
Surga Narkoba dan Tumbangnya Para Bos
Label surga belanja pemakai narkoba yang disematkan ke kawasan ini bahkan sempat termashyur sampai ke luar kota. Hilir mudik para pengedar dan pemakai narkoba mendatangi kawasan ini. Tidak hanya kalangan bawah atau menengah, pejabat kepolisian atau anggota legislatif yang ditangkap aparat kepolisian mendapatkan pasokan barang haram itu dari kawasan ini.
Beberapa tahun lalu, tak semua orang berani masuk kawasan ini. Hampir di semua gang lalu lalang para pemuda berbadan kekar dengan pandangan penuh curiga. Bahkan terkadang mereka yang baru pertama kali datang, akan ditanya KTP.
Wartawan Sinar Harapan Dany Putra pada September 2014 lalu menulis, tahun 1999 sampai akhir 2013, Kampung Ambon menjadi sasaran empuk kartel narkoba. Bandar besar, sedang, dan kecil leluasa meneguk keuntungan. 
Menurut Kepala Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Gembong Yudha, yang diwawancarai Dany Putra, selama perjalanannya, Kampung Ambon dipimpin tiga bandar besar. Bandar besar menaungi warga yang bersedia mengedarkan dengan membuka lapak-lapak.  “Ada beberapa bandar di sana. Tapi dari beberapa sindikat, hanya sebagian yang merajai peredaran narkoba,” katanya.
Sebut saja Michael Glenn Manuputty yang ditangkap Polda Metro Jaya di kontrakannya di kawasan Villa Bintaro Regensi, Blok G3/17, Pondok Aren, Tangerang, pada 27 Juli 2009. Ada pula Morison Manuel Yunus yang dibekuk pada 22 September 2013 di di Perumahan Harvest, Cileungsi, Kabupaten Bogor. Selanjutnya ada Donald Pattiwael alias Getet yang meninggal pada 7 Januari 2012. Ketiganya adalah bandar yang paling fenomenal di Kampung Ambon.
Selain ketiga bandar itu, ada bandar skala menengah seperti Edo Kacili, Ari Morison, Beby Marcela, Edo Tupessy, dan masih banyak lagi. Namun dari semua bandar menengah ini, kemungkinan besar berafiliasi kepada satu induk. Morison diduga kuat menjadi induk narkoba di kampung itu.
Jalan panjang penangkapan Morison dimulai saat Lapak Mangga—lapak terbesar di Kampung Ambon—miliknya digerebek pada 16 Maret 2013. “Saat itu, 70 orang diringkus dari Lapak Mangga. Tim juga mengamankan 100 gram sabu, 60 sepeda motor pasien narkoba, dan uang tunai hasil penjualan senilai Rp 75 Juta,” tutur Gembong.
Memang saat dibekuk, Morison hanya mengaku memiliki satu lapak di Jalan Berlian. Lapak Mangga milik Morison ini adalah yang terbesar dari semua lapak yang ada. Tapi, polisi tidak percaya begitu saja sebab dua tahun lebih menjadi bandar, ia memiliki kekayaan yang berlimpah.
Polisi telah menyegel enam rumah milik tersangka Morison Manuel Yunus alias Ison (45) di Jalan Safir RT 05/07 dan Jalan Nilam RT 06/07, Kampung Ambon, dan di Sentul, Jawa Barat. Belum lagi harta benda lainnya seperti, perhiasan emas 700 gram, mobil, dan motor.
Semua aset yang disita jumlahnya mencapai miliaran rupiah.  Ditangkapnya Morison ikut mengurangi peredaran narkoba di Kampung Ambon.
Berdasarkan cerita masyarakat Kampung Ambon, Morison alias Ison memulai karier narkobanya pada 1998. Kala itu ia menjadi anak buah Donald Pattiwael alias Getet. Saat itu, Ison masih bekerja sebagai sekuriti di kantor Satelindo. Jadi pengedar ganja hanya kerjaan sampingannya.
Ison masih pengedar kecil ketika itu. Tak ada tanda-tanda Ison menjadi lebih besar dari Getet. “Bahkan ia memanggil Getet sebagai bos,” kata Ketua RT 07/07 Kampung Ambon, Sheynda Lohy Nittalesy, yang diwawancarai Dany Putra pada 2014 lalu.
Sheynda merupakan teman kecil Ison. Menurutnya, Ison memulai jualan sabu tanpa modal banyak. Ia hanya bermodal mengontrak rumah.
Ison membeli sabu dengan cara tunda bayar. Jadi, sabu diambil dari bandar, setelah tiga hari berikutnya baru Ison mentransfer uang pembelian ke bandar. “Ia menyisihkan keuntungan dari penjualan di lapaknya,” ucapnya.
Sheynda melanjutkan, dalam sekejap Ison melesat. Bertahun-tahun menjadi bandar kecil, ia kemudian mulai jadi bandar besar. Tahun 2009 awal, benderanya mulai berkibar di Kampung Ambon, menyaingi Getet. Kemudian Ison punya sebutan baru, anak buahnya memanggilnya bos. Bahkan beberapa warga juga ikut memanggilnya bos.
Tahun 2011, Ison membeli empat rumah di Jalan Safir, Kampung Ambon. Empat rumah itu kemudian dijadikan satu sehingga menjadi rumah terbesar di sana. Rumah yang tadinya disewanya untuk lapak pun ia beli. Pada akhir masa jayanya tahun 2013, lapak ini dikenal dengan sebutan Lapak Mangga.
Sheynda melanjutkan, Donald Pattiwael dijuluki warga sebagai Don. Ia bisa dibilang orang pertama yang menjadi bandar di Kampung Ambon. Don sudah menjadi bandar sejak 1999. Bisnisnya mulai runtuh pada 2008.
Oleh warga, ia juga dijuluki Pablo Escobar, bandar narkoba fenomenal asal Kolombia. “Pada era ini, narkoba yang marak beredar jenis ganja. Getet pengendar ganja terbesar di Kampung Ambon,” kata perempuan yang tinggal sejak 1973 di Kompleks Permata ini.
Getet runtuh lantaran terkena kasus pada 31 Januari 2011. Saat itu, ia berurusan dengan keluarga Nitalessy. Getet dituduh jadi otak pembunuhan adik Sheynda. Namanya John Svend Pry Nitalessy. Keluarga lebih akrab memanggilnya Empy.
Alhasil, bisnis haram Getet tak ada yang meneruskan. Anak buah Getet sama sekali tak menunjukkan kesetiaannya. Mereka memilih pergi. Ada pula yang bekerja kepada Ison. Banyak pula yang membuka lapaknya masing-masing di Kampung Ambon.
Seingat Sheynda, bisnis sabu Getet tambah terpuruk lantaran keluarga Nitalessy mengamuk. Kakak tertua di keluarga itu, Tossi Nitalessy, menghancurkan lapak sabu milik Getet.
Tossi merobohkan tembok depan, menghancurkan semua kusen jendela dan pintu. Pagar-pagar dirusak. Perabotan di dalam rumah dihancurkannya.
Semua orang di Kampung Ambon tak berani berbuat apa-apa saat Tossi mengamuk. Bahkan setelah puas, Tossi memasang spanduk putih bertuliskan ‘Rumah Ini dalam Sengketa. John Svend Pry Nitalessy.’
Dalam waktu yang bersamaan, saat Getet berjaya dan Ison sedang meniti karier, ada bandar lain masuk ke Kampung Ambon sekitar tahun 2007. Ia adalah Michael Gleen Manuputty. Ia sebenarnya orang luar Kampung Ambon. Michael berasal dari keluarga berada, tinggal di Kompleks Pertamina, Cengkareng, Jakarta Barat, tidak jauh dari Kampung Ambon.
Namun kemudian, Michael membeli rumah di Kampung Ambon. Ia lalu mulai mengedarkan sabu. Michael kemudian menjadi pesaing Getet. Oleh anak buahnya, Michael dipanggil Bozzo. Tapi, usaha Michael tak lama. Pada 2009, ia tertangkap dan kerajaannya runtuh. 

kampung ambon2 - cnn indonesia
Warga Komplek Permata, Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta, Rabu (17/9/2014) menunjukkan hasil kerajinan tangan mereka. Setelah perlahan-lahan bebas dari narkoba, warga Kampung Ambon kini mengikuti berbagai macam pelatihan wirausaha yang diadakan oleh Badan Narkotika Nasional dan Polres Jakarta Barat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Level Operasi Setingkat Polda, Kini Persuasif
Shyenda juga bercerita, dulu, pengguna narkoba dengan bebasnya menghisap sabu di jalan-jalan kampung itu. Lantunan musik dan kelap-kelip lampu seperti diskotek terdengar hampir setiap malam. Ada pula puluhan CCTV mengintai di setiap mulut gang dan lapak narkoba, untuk memantau kondisi. Suasana ini sudah terjadi sejak periode 1999.
Tahun 2008, penggerebekan besar-besaran dilakukan polisi. Saat itu, kepolisian dari satuan Brigade Mobil (Brimob) Kedung Halang, Bogor, Jawa Barat, membasmi peredaran narkoba.
“Ingat betul saya, mereka menduduki kampung ini selama enam bulan mulai Juli-Desember 2008. Peredaran ganja mati,” tutur Syenda yang tinggal di Kampung Ambon sejak 1973.
Terbenam ganja, terbitlah sabu. Setelah polisi meninggalkan lokasi itu, narkoba jenis sabu pun masuk awal Januari 2009. Para bandar narkoba membuat restoran-restoran narkoba di kampung ini. “Banyak bandar narkoba yang bersinar. Sebelum diringkus Polda Metro Jaya pada 2012, para bandar memiliki lapak paling banyak,” katanya.
Seingat Syenda total lapak narkoba yang ada di kampungnya itu berjumlah 47 lapak. Dari Jalan Nilam, Berlian, Intan, Safir, Mirah, Akik, Kristal, Jambrud, Kecubung, Biduri, Badar, dan Pirus semua ada lapak narkoba. Hanya di Jalan Mutiara yang tidak ada lapak.
“Dari sembilan RT di RW 07, yang ada peredaran narkoba itu mulai dari RT 1 sampai 7. Semua itu berada di dalam Kompleks Permata,” ucapnya.
Uniknya, tidak ada bandar yang memonopoli peredaran narkoba di kampung itu. Bandar-bandar memiliki lapak masing-masing.
Kondisi ini membuat kompleks tersebut menjadi terkenal peredaran narkobanya. Alhasil, banyak warga yang ikut dilibatkan dalam narkoba.
Saat itu, peredaran barang haram tersebut berjalan rapi karena disusun oleh banyak warga masyarakat dan semuanya saling melengkapi. Dari tukang ojek, petugas keamanan, ibu-ibu, pemuda, dan si pengedar sendiri.
“Dulu tukang ojek saja bisa mendapat penghasilan Rp 700.000 sehari cuma mengantar pasien (pelanggan). Tukang parkir Rp 700.000 jaga parkir satu lapak saja. Bagian menimbang narkoba penghasilannya Rp 8 juta, cuci cangklong Rp 3,5 juta, tukang bersih-bersih Rp 2-3 juta. Semua dilakukan hanya satu sif (per 8 jam) setiap lapak,” tuturnya.
Lebih jauh, tiap rumah mendapat “uang berisik” Rp 350.000 setiap minggunya. Ini diberikan sebagai bentuk maaf atas ketidaknyamanan warga setiap malam.
Saking rapinya, razia narkoba di lokasi ini harus dilakukan sampai level Polda dan Mabes Polri. Kalau hanya setingkat Polsek atau Polres, polisi memilih putar balik daripada digebuki warga.
Razia yang sudah dikonsep polisi juga kerap diketahui para bandar dari oknum polisi yang kerap menikmati sabu di kompleks itu. Bocoran berita pun mulai dari tukang ojek di persimpangan Daan Mogot, penjaga gardu, dan setiap titik keamanan dilengkapi handy talkie dan ponsel untuk memantau sepanjang malam.
Ketua RW 07, Yeni Napitupulu mengatakan, adanya kekerabatan yang erat membuat peredaran narkoba sulit diberantas. “Mereka semua saling saudara. Banyak juga warga yang tertekan karena ada peredaran narkoba. Tapi, mereka juga tidak mau melapor ke polisi karena saudara mereka sendiri yang terlibat,” ceritanya.
Seringnya razia yang dilakukan aparat juga mengganggu kenyamanan warga sekitar. Mereka yang tidak terlibat terkena getah dari razia yang cenderung beradegan keras.
“Di sini banyak orang tua dan anak kecil. Kalau ada penggerebekan, warga tentu terganggu. Belum lagi suara tembakan dan keributan, membuat warga takut. Jadi warga pikir, lebih baik tidak usah digerebek karena menakutkan,” tuturnya.
Namun, kini situasi sudah berubah. Penanganan aparat kepolisian secara persuasif membuat warga kian dekat dengan polisi. Upaya pendekatan dan beragam kegiatan yang dilakukan kepolisian membuat warga nyaman berdekatan dengan polisi.
“Ini setelah warga mendapat penanganan persuasif dan pelatihan keterampilan. Usaha selanjutnya, memberikan bantuan lapangan pekerjaan dan modal usaha kepada mereka supaya tidak balik menjadi pengedar,” katanya.
Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Fadil Imran saat itu mengungkapkan, polisi intensif melakukan pendekatan kepada warga Kampung Ambon. Ini sebagai upaya melakukan tindakan berkala untuk mencegah kembali maraknya narkoba di kampung tersebut.
“Setelah kegiatan razia, penggerebekan, dan penindakan tegas secara intensif kami lakukan untuk mencegah peredaran narkoba, polisi perlu melakukan pendekatan kepada warga sebagai langkah persuasif guna mencegah kembali maraknya narkoba,” ucapnya.
Aparat BNN Kota Jakarta Barat juga melakukan pendekatan persuasif dan melakukan pembinaan kepada warga setempat. Bahkan didirikan sejumlah posko anti narkoba di lokasi tersebut.
Hasilnya positif, secara bertahap suasana seram di Kampung Ambon mulai mencair. Bahkan tidak lagi terlihat peredaran narkoba yang dilakukan secara terbuka seperti dulu. Karena itu, tak sedikit juga warga yang kaget mendengar penggerebekan oleh aparat kepolisian pada Sabtu (23/1/2016) lalu. (*)