Senin, 03 Maret 2014

PARANPUANG/GADIS CABE-CABEAN ALA AMBON



PARANPUANG/GADIS  CABE-CABEAN ALA AMBON
By. P. Saiya

Anda pasti bertanya kepada saya apa sih arti dari cabe-cabean? Sebelum gue, aku dan beta menjelaskan lebih dalam dan seruh banget gitu lho, gue, aku dan beta jelaskan dulu bro, apa itu cabe-cabean. Dalam beberapa devenisi yang gue, aku dan beta cari dari internet dijelaskan begini bro, (1).Gadis cabe-cabean ditujukan untuk menggambarkan gadis belia usia belasan tahun yang memiliki kebiasaan khas. Pengaruh pergaulan bebas dan perkembangan teknologi membuatnya asyik dengan dunianya sendiri.(2). Gadis Cabe-cabean adalah sebutan bagi remaja putri yang senang keluyuran malam dan nongkrong di balapan liar. Sedangkan terong-terongan adalah sebutan bagi remaja pria yang senang dengan kehidupan malam, suka tawuran dan menghisap ganja. Usia mereka umumnya sama, kisaran SMP dan SMA. Sorri banget gue ngga bahas terong-terongan walaupun ada sedikit pengertiannya bro. Gue, aku dan beta juga punya referensi lain bro. lanjut..jut..jut

”Untuk membantu menjelaskan fenomena ini, akun Youtube Young Lex membuat video menggelitik yang mengulas gadis cabe-cabean. Berikut sejumlah cara untuk mengidentifikasi gadis cabe-cabean. Ciri gadis ini pertama adalah 3B, Behel, Blackberry dan Berponi. Katanya, behel dipasang untuk bergaya, bukan untuk merapikan gigi. Lucunya lagi, mereka sering memakai behel ala kadarnya tidak di dokter gigi yang memang menghabiskan biaya cukup mahal. “Cabe-cabean itu biasanya cewek, yang pakai behel, mending giginya kenapa. Dia cuma buat gaya doang karena pasang behel nggak bener. Pasang behel itu harusnya di tempat dokter gigi, ini malah pasang behel di ahli gigi. Girl please!,” ujar Young Lex.  kedua, Blackberry adalah ciri lain gadis cabe-cabean. Smartphone ini justru jadi andalan gadis cabe-cabean. Blackberry dipakai untuk gaya dan sekedar update status BBM tanpa memahami apa kegunaan asli Blackberry”.

Kembali dengan judul di atas,”Parangpuan cabe-cabean ala ambon pada dasarnya ngga jauh berbeda dengan parangpuan/gadis cabe-cabean yang ada di tempat lain, siklus yang sama juga terjadi dengan gaya dan model tetapi mungkin kultur yang membedakan. Oke bro, gue, aku dan beta mulai focus ni, ayo kita lihat satu persatu: parangpuan/gadis cabe-cabean ala ambon: maaf bro, ini yang gue,aku dan beta amati: Sok logat Jakarta, lhu, gue padahal belum pernah ke Jakarta, maklum suka nonton sinetron padahal terakhir pakai beta, ose dan kamong ( seperti beta ni, terong-terongan ets itukan dulu bro) . Suka paksa top / cari perhatian gitu lho. Suka upload foto yang cantik-cantik paksa rambut lurus padahal rambut aslinya karibo/kribo. Suka buat lesum pipih pada foto kamera padahal gigi di bagian dalam sudah copot, gara-gara terlalu makan coklat. Suka pakai calan jins ketat padahal bali di jakarbongkar. Suka pakai sepatu hak tinggi padahal di ambon bagunung ( banyak gunung). Suka parlente/bohongi orang tua padahal bajalang takaruang di ACC atau ambon Plaza. Suka pakai tindik itu lho anting di hidung padahal ada mau infeksi. Suka bangun tidur terlambat karena semalam dugem. Suka makan ayam  padahal ikan ada murah di pasar Mardika. Suka gonta-ganti pacar padahal mau cari kepeng/uang  aja. Suka pakai Blackberry padahal tidak pernah tau tutornya. Paksa pakai lensa mata biar kelihatan ala kebarat-baratan padahal biji mata ada sakit. Paksa pakai rambut poni padahal mukanya tidak cocok dengan jenis rambutnya. Paksa orang tua beli motor metic padahal motor kredit. Paksa muka putih padahal jerawat satu muka. Kalau bro belum puas tambahkan  aja pada tulisan gue,aku dan beta.

Fitria Miftasani Berpendapat : Mahasiswa Erasmus Wroclaw Institute of Technology, Poland.” Banyak faktor yang menyebabkan fenomena ini muncul. Setidaknya ada tiga faktor utama yang memiliki andil khusus. (1) Pertama, faktor media. Tak dapat dipungkiri, tayangan di televisi tidak banyak memberikan tuntunan yang mendidik dan membangun. Khususnya pada segmen remaja. Gaya hidup yang diperlihatkan dalam sinetron-sinetron atau drama-drama impor sedikit banyak mempengaruhi remaja kita untuk menirunya. Lihat saja bagaimana cara berpakaian dan gaya hidup mereka dijiplak habis oleh remaja putri dalam komunitas cabe-cabean ini. (2) Kedua adalah faktor keluarga, dalam hal ini adalah orang tua. Pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak tidak boleh lepas begitu saja. Kebutuhan seorang anak tidak hanya sekedar materi namun juga kasih sayang dan perhatian. Salah satu mengapa fenomena ini muncul adalah banyaknya remaja-remaja broken home yang mencari pelampiasan dengan cara-cara negatif. (3) Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan terdekat dari remaja adalah sekolah dan teman-teman bergaulnya.

Kita semua sepakat bahwa fenomena ini perlu mendapatkan perhatian. Tak ada yang menginginkan generasi muda Indonesia menjadi generasi yang hidupnya sia-sia. Di sisi lain masa remaja menyimpan potensi yang sangat besar untuk pembentukkan karakter di usia dewasa. Banyak peran yang bisa kita lakukan dan kita bisa mulai bergerak dari sekarang (Fitria Miftasani).

Sebelum Gue,aku dan beta menutup tulisan ini ijinkan saya mengutip sebuah pernyataan dari  Thomas Aquinas, salah satu filsuf terhebat dimasyarakat Barat, menulis tentang temperamen dan hubungannya dengan sifat baik dalam SUMMA THEOLICA-nya yang terkenal. Tiga hal yang di butuhkan untuk keselamatan manusia.” Mengetahui yang harus ia percaya, mengetahui hal yang harus ia inginkan, dan mengetahui hal yang harus ia lakukan.” Pikirkan apa yang anda tiru sangat menentukan kualitas masa depan anda. Ingat-ingat jangan jadi ”PARANGPUAN CABE-CABEAN dan ingat satu hal lagi boleh makan cabe, asalkan jangan makan cabe-cabean bisa-bisa gigi patah/copot/tanggal.

Sebuah Refleksi: Pikirkan apa yang anda tiru sangat menentukan kualitas masa depan anda

0 komentar:

Posting Komentar